JAKARTA
Ekonomi Singapura hanya tumbuh 0,1 persen secara tahunan atau year on year (yoy) pada kuartal III/2019, data menurut perkiraan Kementerian Perdagangan dan Industri (MTI) Senin.
Meski tumbuh di bawah ekspektasi para analis, namun angka ini sudah membuat negara ini terhindar dari resesi.
Channel News Asia memberitakan para ekonom sebelumnya memprediksi pertumbuhan 0,3 persen, seperti yang dihimpun oleh jajak pendapat Reuters.
Pertumbuhan ekonomi sebesar 0,1 persen ini sama seperti kuartal sebelumnya yang merupakan pertumbuhan paling rendah dalam satu dekade.
Sementara produk domestik bruto (PDB) naik 0,6 persen, pulih dari penurunan 2,7 persen pada kuartal sebelumnya.
Ini berarti bahwa Singapura terhindar dari resesi teknis, yang didefinisikan sebagai kontraksi ekonomi selama dua kuartal berturut-turut.
Meskipun demikian, data kuartal III tersebut masih perkiraan.
Menurut data MTI, sektor manufaktur mengalami kontraksi 3,5 persen secara tahunan pada kuartal ketiga, melanjutkan penurunan 3,3 persen pada kuartal sebelumnya.
"Kontraksi ini disebabkan oleh penurunan output dalam elektronik, rekayasa presisi dan rekayasa transportasi. Yang lebih dari mengimbangi ekspansi keluaran dalam bahan kimia, manufaktur biomedis dan klaster manufaktur umum," kata MTI.
Di sisi lain, sektor konstruksi tumbuh sebesar 2,7 persen yoy pada kuartal ketiga, memperluas ekspansi 2,8 persen pada kuartal sebelumnya.
Industri jasa juga meningkat 0,9 persen yoy di kuartal ketiga, menyusul pertumbuhan 1,1 persen di kuartal sebelumnya.
"Pertumbuhan selama kuartal ini terutama didukung oleh sektor keuangan dan asuransi, industri jasa lainnya dan sektor layanan bisnis," kata MTI.
MTI akan merilis perkiraan PDB awal untuk kuartal ketiga, termasuk kinerja berdasarkan sektor, sumber pertumbuhan, inflasi, lapangan kerja dan produktivitas, dalam Survei Ekonomi Singapura pada November.
New Straits Times melaporkan bahwa para analis mengatakan pertumbuhan yang membuat Singapura terhindar dari resesi ini membawa pertanda baik untuk kuartal ke empat tahun ini, namun memperingatkan bahwa prospek pertumbuhan masih sangat terbatas
Ekonom CIMB Private Banking Song Seng Wun mengatakan, “pasar sedikit lega sekarang karena eskalasi perang dagang AS-China tidak meningkat meskipun kami tidak yakin berapa lama hal itu akan bertahan.
“Basis perbandingan yang rendah pada kuartal terakhir 2018 juga membantu. Kita berharap stabilitas pada level yang rendah dan tidak berubah memburuk. Hal itu akan memberi kepercayaan diri bahwa perekonomian sudah terhindar dari kondisi terburuknya,” ujar dia.
Selena Ling, kepala penelitian dan strategi keuangan di Bank OCBC, memperingatkan kondisi ekonomi global tetap masih tidak kondusif meski ada negosiasi antara AS-China baru-baru ini.
“Substansi dari kesepakatan adalah bahwa AS akan menunda tahap pertama pengenaan tarif. Tetapi jika fase 2 dan 3 tidak ada kesepakatan, maka masalahnya mungkin akan kembali lagi.
Menurut dia masalah ekonomi global kini tidak hanya perang dagang. "Sekarang ada kelemahan di tempat lain di Eropa, Inggris dan Hong Kong. Sehingga hal itu berubah menjadi kisah pertumbuhan global yang melambat dengan jangkauan lebih luas,” ujar dia.
news_share_descriptionsubscription_contact

