Muhammad Nazarudin Latief
15 April 2021•Update: 15 April 2021
JAKARTA
Neraca perdagangan Indonesia pada Maret mencatatkan surplus sebesar USD1,57 miliar, meneruskan tren dari awal tahun ini, ujar pengumuman Badan Pusat Statistik (BPS), Kamis.
Surplus berasal dari selisih nilai ekspor sebesar USD18,35 miliar dan impor yang hanya USD16,79 miliar.
Nilai surplus jauh lebih tinggi dibanding Maret tahun lalu sebesar USD0,72 miliar atau dan 2019 yang hanya USD0,7 miliar.
"Kinerja ekspor Maret naik 20,31 persen dibanding Februari, jika dibanding Maret 2020 malah naik 30,47 persen," ujar BPS.
Menurut BPS, secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari–Maret mencapai USD48,90 miliar atau meningkat 17,11 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan ekspor terjadi pada sektor migas, pertanian, industri pengolahan dan tambang.
Ekspor nonmigas terbesar dikirim ke China sebesar USD3,73 miliar, disusul Amerika Serikat USD2,07 miliar dan Jepang USD1,38 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 41,12 persen.
Impor juga naik
Impor Indonesia baik migas maupun nonmigas pada Maret juga naik 26,5 persen dibandingkan Februari, atau naik 25,73 persen dibandingkan Maret 2020.
Barang impor yang naik adalah barang konsumsi USD516,0 juta (14,62 persen), bahan baku/penolong USD3.024,9 juta (10,16 persen), dan barang modal USD672,2 juta (11,47 persen).
“Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar adalah China, Jepang dan Korea Selatan,” ujar BPS.
Indonesia mengalami defisit perdagangan dengan Australia sebesar USD529,3 juta, kemudian Korea Selatan USD503,5 juta dan Thailand sebesar USD281,1 juta.