Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Meskipun nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah, namun kondisi ini dianggap belum mengganggu aktivitas perekonomian di dalam negeri.
Sempat menguat pada penghujung Januari lalu dengan berada di kisaran Rp13.200, kini rupiah berada di kisaran Rp13.700-Rp13.800. Namun, para pelaku bisnis mengaku tidak terlalu khawatir dengan kondisi ini.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Hariyadi Sukamdani mengatakan kepada Anadolu Agency, Jumat, bahwa para pengusaha masih menganggap wajar kondisi ini.
“Ekspor saat ini justru mulai naik karena harga komoditas naik,” jelas Hariyadi.
Dia juga mengaku optimis sepanjang tahun ini rupiah akan berada di level Rp13.400 meskipun saat ini masih di kisaran Rp13.700.
Pengusaha menurut dia masih merasa nyaman dengan kurs rupiah terhadap dolar maksimal hingga Rp13.500.
“Dua bulan lagi kemungkinan rupiah kembali ke level ini,” ungkap Hariyadi.
Meskipun pelemahan rupiah terhadap dolar berpengaruh terhadap harga barang-barang yang diimpor, Hariyadi mengatakan pengusaha cukup fleksibel menyiasati hal tersebut dengan mengurangi volume impor.
“Tapi sekarang impor sebenarnya tidak masalah karena kebanyakan untuk barang modal seperti untuk pembangunan infrastruktur dan pabrik. Jadi impornya produktif,” lanjut dia.
Dengan begitu, para pengusaha saat ini menurut dia masih tenang tanpa merasa terganggu dengan kondisi rupiah terkini.
Hariyadi juga mengatakan, pengusaha hingga saat ini belum berfikir untuk melakukan penyesuaian harga berbagai produk di pasar sehingga masyarakat tidak perlu resah.
Dampak pidato Gubernur The Fed
Secara terpisah, Analis Bahana Sekuritas Muhammad Wafi mengatakan, dolar semakin perkasa karena didorong oleh pernyataan Gubernur The Federal Reserve System Jerome Powell.
Pengganti Janet Yellen tersebut dalam penampilan pertamanya di depan publik berjanji untuk mencegah terjadinya kondisi ekonomi yang telalu panas (overheating), namun tetap akan menjalankan rencana untuk menaikkan suku bunga secara bertahap.
Dia juga menyampaikan bahwa ekonomi mulai menguat. Pernyataan tersebut meningkatkan spekulasi di kalangan investor bahwa bank sentral AS akan menaikkan suku bunga hinga empat kali pada tahun ini.
“Padahal sebelumnya the Fed memproyeksikan kenaikan suku bunga pada tahun ini hanya tiga kali,” jelas Wafi.
Oleh karena itu, Wafi melihat pelemahan rupiah ini didominasi oleh faktor eksternal. Sementara secara domestik, minimnya sentimen positif terhadap perekonomian menurut dia membuat laju pelemahan rupiah tidak tertahan.
“Tapi ini bukan berarti secara fundamental ekonomi kita lemah. Karena masih ada data penguatan ekonomi yang belum keluar seperti data GDP,” urai dia.
Pada saat data GDP diperkirakan akan keluar pada Mei nanti, menurut dia dapat menjadi sentimen domestik terhadap perekonomian nasional.
Berdasarkan hal tersebut, Wafi juga mengamini pendapat Hariyadi Sukamdani, bahwa pelemahan rupiah kali ini tidak terlalu mengkhawatirkan.
Dia mengatakan, Bank Indonesia sudah melakukan intervensi dan hadir di pasar mata uang dalam beberapa hari terakhir untuk membatasi melemahnya rupiah agar tetap stabil.
“Cadangan devisa kita juga mencukupi sehingga rupiah tidak akan tembus Rp14 ribu,” lanjut dia.
Tidak sesuai fundamental ekonomi
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia Doddy Zulverdi mengatakan nilai tukar rupiah saat ini terlalu berlebihan dan tidak sesuai dengan fundamental ekonomi Indonesia saat ini.
Doddy mengatakan, kondisi fundamental Indonesia justru menunjukkan indikasi perbaikan dengan terus tumbuhnya perekonomian dan inflasi yang terkendali.
“Rupiah sebenarnya punya potensi penguatan. Makanya kita aktif di pasar,” imbuh Doddy.
Namun, dia tidak bisa menyebutkan jumlah devisa yang digelontorkan bank sentral untuk menjaga stabilisasi nilai tukar rupiah karena merupakan bagian dari strategi BI yang bersifat rahasia.
Doddy memperkirakan dolar akan terus menguat hingga dilaksanakannya rapat FOMC (Federal Open Market Committee) pada Maret mendatang. Setelah itu, volatilitas rupiah menurut dia diperkirakan akan lebih stabil.
“Cadangan devisa kita dipastikan masih aman dan mencukupi untuk menjaga volatilitas rupiah,” tegas dia.
Berdampak terhadap harga bahan makanan
Meskipun demikian pelemahan rupiah diprediksi akan memengaruhi harga bahan-bahan makanan khususnya yang berasal dari impor seperti gandung, kedelai, dan jagung.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik Yunita Rusanti mengatakan bila harga gandum naik, akan berdampak terhadap harga mie dan roti. Begitu juga dengan harga kedelai akan menggerek naik harga tempe.
“Kalau jagung biasanya untuk pakan ternak. Kalauh harganya naik, khawatir harga daging ayam dan telur ayam juga naik,” ungkap Yunita.
Meski begitu, dia belum bisa memperkirakan besaran inflasi pada Maret ini yang mungkin timbul akibat kenaikan harga bahan makanan tersebut. “Tergantung berapa besar nilai impornya,” jelas dia.
Apabila impor bahan makanan tidak terlalu signifikan karena pasokan dari domestik mencukupi, seperti tempe dan tahu yang menggunakan kedelai lokal, menurut dia inflasi Maret tidak akan tinggi.
“Kita akan lihat peran pemerintah untuk menjaga inflasi di bulan ini,” imbuh Yunita.
news_share_descriptionsubscription_contact
