Iqbal Musyaffa
08 Februari 2018•Update: 09 Februari 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Dalam tiga bulan ke depan, pemerintah akan fokus pada pembangunan infrastruktur dasar yang dibutuhkan masyarakat di Kabupaten Asmat, Papua.
Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Arie Setiadi mengatakan infrastruktur dasar yang akan dibangun antara lain jembatan yang menghubungkan masyarakat yang tinggal di kampung Syuru ke kota Agats, jalan, instalasi pengolahan air bersih, dan sistem pengolahan air minum.
“Selain itu, juga akan dibangun pengolahan sanitasi dan sampah. Menteri mengamanatkan untuk selesai dalam tiga bulan,” ujar Arie di Jakarta, Kamis.
Namun, Arie belum dapat merinci jumlah anggaran yang diperlukan untuk membangun semua infrastruktur dasar tersebut.
“Angka totalnya masih kita konsolidasikan. Tapi memang angkanya akan besar,” ungkap dia.
Arie menggambarkan besarnya dana yang dibutuhkan karena sulitnya akses distribusi dan ketiadaan bahan baku pembangunan di sana. Untuk bahan bakunya saja harus didatangkan dari kota lain seperti Palu, Sulawesi Tengah.
“Untuk bangun jalan butuh Rp 24 juta permeter. Padahal anggaran normalnya hanya Rp 8 juta permeter,” jelas dia.
Arie menambahkan, sebagai prioritas akan dibangun jalan sepanjang 1,7 km terlebih dahulu di kota Agats dengan lebar jalan dua sampai empat meter.
“Mobilisasi peralatan untuk konstruksi akan dimulai pekan depan. Terkait penyediaan lahan menjadi tanggung jawab pemerintah daerah,” ungkap dia.
Mengubah perilaku
Pada kesempatan yang sama, Direktur Keterpaduan Infrastruktur Permukiman Ditjen Cipta Karya Dwityo Akoro Soeranto mengatakan permasalahan di Asmat bukan hanya perkara ketersediaan infrastruktur saja.
“Minimnya pengetahuan masyarakat terkait pola hidup sehat menjadi penyebab utama merebaknya wabah yang ditambah dengan sulitnya akses ke fasilitas kesehatan terdekat,” jelas dia.
Oleh karena itu, pemerintah juga berusaha membantu masyarakat memperbaiki perilaku dan pola hidupnya agar menjadi lebih baik. “Kita akan memberdayakan penyuluhan terkait sanitasi kepada masyarakat,” tambah dia.
Selain itu, Dwityo mengatakan, pemerintah juga akan memberikan pendampingan kepada masyarakat sejak perencanaan pembangunan infrastruktur dasar hingga selama satu tahun ke depan.
Pendampingan tersebut diperlukan agar ketika infrastruktur sudah terbangun, masyarakat bisa mempergunakannya serta menjaganya.
“Untuk penyediaan air minum dan sanitasi misalnya, kita gunakan skema penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (Pamsimas),” jelas Dwityo.
Dwityo menjelaskan, pemerintah akan menyediakan masing-masing dua pamsimas di 23 distrik yang ada di Kabupaten Asmat. “Satu pamsimas bisa dimanfaatkan untuk 500-1000 orang,” urai dia.
Kemudian dia menjelaskan, masyarakat juga akan dilatih untuk bertani selama dua tahun dengan harapan dapat memenuhi kebutuhan pangan dan menggerakkan ekonomi masyarakat berbasis pertanian.
Karena tingginya curah hujan di Asmat, pemerintah menurut dia akan membangun embung untuk mengumpulkan air hujan yang bisa digunakan untuk pengairan pertanian dan aktivitas lainnya.
“60 persen penduduk sangat bergantung dengan air hujan sehingga perlu dikembangkan,” tambah dia.