Hayati Nupus
30 Januari 2019•Update: 30 Januari 2019
Hayati Nupus
JAKARTA
Lembaga riset mengungkapkan fenomena layanan pesan antar makanan tumbuh tinggi dalam lima tahun terakhir.
Deputi Spire Research and Consulting Jeffrey Bahar mengatakan layanan tersebut dimulai dari resto makanan cepat saji besar di Indonesia seperti Pizza Hut, McD dan KFC, namun belakangan meluas ke resto kecil seiring adanya transportasi daring berbasis aplikasi.
“Sekarang warung kecil di sebelah rumah juga sudah bisa memberikan layanan ini,” ujar Jeffrey, Rabu, di Jakarta.
Riset Spire Research and Consulting menyimpulkan 47 persen konsumen memesan makanan lewat daring karena tidak memiliki waktu untuk menyiapkan makanan, 45 persen karena tidak memungkinkan keluar rumah dan 35 persen karena diskon.
Di Indonesia, ada dua transportasi daring berbasis aplikasi yang dominan dan menyediakan layanan pesan antar makanan, yaitu Go-Jek yang merupakan start up unicorn asal Indonesia dan Grab, penyedia layanan asal Malaysia.
Saat memilih di antara kedua layanan itu, ujar Jeffrey, 69 konsumen mempertimbangkan harga, 45 persen besaran ongkos kirim, 44 persen promosi produk dan 38 persen diskon.
Umumnya konsumen, lanjut Jeffrey, menggunakan pembayaran tunai ketimbang mobile wallet.
Riset mencatat 44 persen responden menggunakan mobile wallet Go-Pay dan 35 persen OVO dengan Grab.
Meski begitu konsumen tak selalu puas meski layanan pesan antar makanan lebih praktis, kata Jeffrey. Sebanyak 27 persen konsumen mengalami masalah saat memesan makanan lewat aplikasi transportasi daring.
Penyebabnya, lanjut Jeffrey, 34 persen karena makanan yang dipesan habis, 34 persen karena pengemudi menolak pesanan dengan alasan lokasi resto atau tujuan jauh dan 17 persen pengemudi tidak membeli uang cukup untuk membeli makanan.
Riset dilakukan pada 175 responden sepanjang November-Desember 2018 di Jakarta, Bandung, Surabaya dan Medan.