Muhammad Nazarudin Latief
01 November 2017•Update: 01 November 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan ada pergeseran perilaku belanja masyarakat, dari belanja konsumsi menjadi belanja leisure (kesenangan) sehingga menyebabkan gerai-gerai belanja di Indonesia bertumbangan.
Masyarakat, terutama generasi milenial, lebih senang menabung dan membelanjakan uang untuk traveling, food and baverage, dan gaya hidup lain.
Pola konsumsi masyarakat Indonesia bergeser cepat ke arah experience-based consumption.
“[Pergeseran] ini tampak dalam laporan keuangan. Bukan hanya cerita,” ujar Menteri Enggar di Bekasi, Jawa Barat, Rabu.
Kondisi ini, menurut dia, memang membingungkan generasi yang lebih tua. Meski, tren pergeseran ini sebenarnya sudah diendus oleh pelaku usaha ritel.
Beberapa waktu lalu, misalnya, Menteri Enggar mengaku heran ada hypermart yang menyediakan tempat bagi anak-anak muda nongkrong, padahal sebelumnya hanya tempat berbelanja.
Beberapa tempat belanja di Indonesia mulai bertumbangan, mulai dari Seven Eleven, Matahari Pasaraya, Ramayana, Lotus, dan Debenhams. Ada juga laporan sepinya pembeli di pusat perbelanjaan elektronik di Roxy dan Glodok.
Pergeseran pola konsumsi ini juga dialami oleh kelas menengah atas, mereka kini memilih berkunjung ke speciality store atau butik-butik merk tertentu. Menteri Enggar mencontohkan penjualan di MAP Club milik PT Mitra Adiperkasa Tbk. Dalam laporan keuangan mereka, penjualannya naik namun departement store-nya ditutup.
Sementara golongan menengah ke bawah memilih belanja online di media-media sosial, seperti Instagram, Facebook dan lain-lain. Ini ditandai dengan nilai dana pihak ketiga di bank-bank nasional yang meningkat tajam.
Pertumbuhan ekonomi, menurut Menteri Enggar, juga mengindikasikan tidak ada kekhawatiran masyarakat terhadap ekonomi nasional. Pada Oktober, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi hanya sebesar 0,01 persen.
“Jadi tidak ada urusan dengan daya beli,” ujar dia.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey membenarkan pandangan Menteri Enggar. Menurutnya, pergeseran perilaku konsumen ini dipengaruhi oleh naiknya pendapatan masyarakat. Perubahan ini bisa dilacak dari 2012 saat pendapatan per kapita masyarakat sudah di atas USD3.000.
Dengan pendapatan di atas USD3.000, mereka bisa mengikuti tren dunia yang kini bergerak ke ekonomi digital dan mengeluarkan uang untuk kesenangan.
Buktinya, kata Mendey, di mal-mal orang yang membawa tas belanjaan lebih sedikit dibanding orang yang makan dan nongkrong. Contoh lain, travel fair selalu lebih ramai, karena masyarakat memang mempersiapkan dana untuk piknik.
Beberapa anggota Aprindo menurut Mendey sudah mengantisipasi perubahan ini. Mereka merestrukturisasi physical store menjadi omny chanel yang menyediakan pengalaman belanja yang terintegrasi, mulai dari offline, dan online.
Mereka juga merestrukturisasi toko, tidak lagi toko serba ada namun lebih spesifik.
“Ini yang akan terjadi pada retail Indonesia saat situasi anomali seperti ini,” kata dia.