Muhammad Latief
JAKARTA
Penyelenggaraan Asian para games 2018 penting bukan hanya bagi para atlet untuk mengejar prestasinya, namun juga bagi bangsa Indonesia dalam rangka membentuk karakter yang penuh penghargaan dan beradab, ujar Muhammad Farhan, Direktur Media dan Public Relation, Indonesia Asian Para Games 2018 Organizing Committee (INAPGOC), di Jakarta, Senin.
Menurut Farhan, “semua orang apa pun kondisinya berhak untuk meraih prestasi. Karena itu, masyarakat juga harus menghargai dan mendukung sehingga semakin ramah disabilitas.”
“Kita sudah berhasil menyelenggarakan Asian Games dengan gemilang. Itu menunjukkan kita bangsa yang maju dan modern. Penyelenggaraan Asian Para Games ini juga harus berhasil untuk menunjukkan kita tidak hanya maju dan modern, tapi juga beradab.”
Indonesia pada 6-13 Oktober mendatang untuk pertama kali menjadi tuan rumah pesta olah raga kaum disabilitas. Ini adalah penyelenggaraan Asian para games ketiga, setelah pada 2014 di Incheon, Korea Selatan dan sebelumnya pada 2010 di Guangzhou, Tiongkok.
Ajang ini diikuti 43 National Paralympic Committe (NPC), dengan jumlah peserta sebanyak 3.589 atlet, 983 official, 18 cabang olahraga, yang terdiri atas 588 nomor pertandingan, 19 venue atau arena.
Jumlah arena tersebar di tiga lokasi, yakni delapan di Gelora Bung Karno (GBK) Senayan Jakarta, 10 arena di Jakarta, dan satu di Sirkuit Sentul, Bogor, Jawa Barat.
Diharapkan, Asian Para Games bakal semeriah Asian Games karena bakal diliput 590 media, didukung dengan 2.500 kamar wisma atlet, dan 6.500 relawan.
Cabang olah raga yang dipertandingkan antara lain panahan, atletik, badminton, boccia, bowling, catur, balap sepeda, goal ball, judo, bowling lapangan, angkat besi, shooting, renang, tenis meja, voli duduk, basket kursi roda, panahan kursi roda, dan tenis kursi roda.
Sejauh ini persiapan sudah hampir final atau sekitar 99 persen, kata Farhan. Untuk venue pertandingan di Gelora Bung Karno, Jakarta International Velodrome dan JIExpo sudah dipersiapkan baik untuk para atlet maupun penonton.
Farhan mengaku mengalami beberapa kesulitan untuk menempatkan penonton. Misalnya di arena aquatic karena memiliki tingkat kecuraman yang tinggi sehingga sulit diakses oleh penonton dengan kursi roda.
“Kita tempatkan penonton sesuai dengan arahan dari technical delegates. Tapi mereka akan mengutamakan jalannya pertandingan,” ujar dia.
Pada sisi transportasi menurut Farhan sudah tidak ada masalah. Aksesibilitas kursi roda sudah diperiksa oleh beberapa delegasi dan tidak menemukan masalah.
“Dari bandara hingga para village, mengambil barang, bongkar muat dan lain-lain hanya butuh waktu 47 menit. Itu sudah trandar olympic. Kita sudah masuk pelayanan standar global.”
Selain prestasi, misi utama penyelenggaraan para games ini adalah menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara dengan keramahan yang tinggi pada penyandang disabilitas.
Tiket gratis untuk penyandang disabilitas
Dirjen Rehabilitasi Sosial Kemensos Edi Suharto mengatakan pemerintah akan memberikan 2.500-5.000 tiket gratis atau sekitar 10 persen dari tiket yang dijual kepada para penyandang disabilitas.
Tiket ini akan disalurkan melalui organisasi-organisasi penyandang disabilitas. Mekanismenya, jika ada yang ingin menonton dalam jumlah tertentu maka pemerintah akan melakukan verifikasi setelah lolos baru diberikan tiket sesuai permintaan.
Berinteraksi dengan atlet penyandang disabilitas, menurut Edi memerlukan etiket khusus. Misalnya berinteraksi dengan para penyandang disabilitas yang berkursi roda, maka pandangan mata harus sejajar dengan mata mereka.
“Kalau menyentuh tubuhnya, kita harus meminta maaf kepada mereka. Itu salah satu contohnya,” kata Edi. Demikian juga dengan para penyandang tuna netra, harus memberikan deskripsi yang sangat jelas.
Pada event ini, Indonesia menargetkan meraih setidaknya 18 medali emas atau peringkat ketujuh, kata Asisten Deputi Olahraga Prestasi Kemenpora Chandra Bhakti.
Target ini didasari prestasi Indonesia pada ajang ASEAN Para Games 2017 di Malaysia yang berhasil meraih 127 emas dari target 90 medali emas. Cabang-cabang olahraga yang menjadi andalan atlet paralimpik Indonesia antara lain atletik, badminton dan tenis meja.
Pemerintah akan memberikan bonus pada atlet asian para games seperti halnya atlet pada Asian Games lalu. "Jika ada atlet paralimpik meraih emas maka memperoleh Rp1,5 miliar. Pemerintah juga memberikan Rp20 juta per atlet yang belum berhasil meraih medali," ujar Chandra.