Erric Permana
20 Desember 2017•Update: 20 Desember 2017
Erric Permana
JAKARTA
Sudah sejak dua hari lalu Muhammad, 14 tahun, tidur beralaskan tikar di trotoar depan Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Jakarta Barat.
Bersama ibu, nenek, paman dan sepupu kecilnya yang baru berusia 4 tahun, pencari suaka asal Afghanistan itu menunggu kejelasan nasib untuk dapat resmi tinggal di Indonesia.
“Kami kesini karena takut dengan Taliban,” ujar Muhammad kepada Anadolu Agency di Jakarta, Selasa.
Muhammad ingat betul bagaimana kejamnya Taliban membunuh bibinya. Mereka menembakkan peluru ke tubuh bibinya dan menjadikan sepupu kecil berusia 4 tahun itu menjadi piatu. Bahkan pamannya yang bekerja sebagai supir, ayah sepupu kecil itu, sempat diancam Taliban akan dibunuh.
Dua pekan lalu keluarga itu boyong ke Indonesia, mengadu nasib demi lepas dari Taliban dan memperoleh kehidupan yang lebih baik. Muhammad satu-satunya anggota keluarga yang bisa berbahasa Inggris.
Trotoar itu tak ramah bagi sepupu kecilnya, juga bagi neneknya yang sedang sakit punggung.
“Izinkan nenek saya masuk ke dalam, punggungnya sedang sakit,” Muhammad memohon.
Seperti Muhammad, Ahmed, bukan nama sebenarnya, juga datang ke Indonesia demi terlepas dari serangan kelompok teroris Al Shabaab.
“Kalau tidak pergi, mereka akan membunuh saya,” katanya.
Bersama temannya, laki-laki asal Somalia ini berharap kemurahan hati pemerintah Indonesia.
Ahmed terbang ke Malaysia 2015 lalu, lantas naik kapal laut ke Medan lewat jalur ilegal. Dari Medan, Ahmed menggunakan bus hingga sampai ke Jakarta.
“Kami menunggu agar Imigrasi mengizinkan masuk dan mendapatkan suaka dari Pemerintah Indonesia,” ujarnya.
- Rudenim kelebihan kapasitas
Kepala Rumah Detensi Imigrasi Kelas I Jakarta Monita Harahap mengatakan tahun ini pihaknya menghadapi tantangan cukup berat dengan banyaknya pencari suaka yang datang. Apalagi, fasilitas yang dimiliki Rudenim amat terbatas.
Dengan fasilitas 51 kamar, Rudenim hanya bisa menampung 85-125 orang saja. Namun kenyataannya, jumlah pencari suaka yang menunggu nasib mencapai 445 orang.
Kondisi Rudenim sangat mengkhawatirkan. Beralas tikar dengan atap terpal, mereka tinggal dalam kondisi berdesakkan bersama ratusan pencari suaka lainnya.
Bagi yang berkeluarga, mereka memberi pembatas berdinding kain. Karena tak ada lemari, mereka menggantungkan baju menggunakan tali di sepanjang pagar Rudenim
“Mereka terus berdatangan, tanpa henti,” ujar Monita.
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 125 tahun 2016 tentang Penanganan Pengungsi dari Luar Negeri, pihak imigrasi hanya bertugas untuk mengawasi para pencari suaka.
Dua bulan belakangan, sebanyak 150 orang di antara pencari suaka itu telah masuk dan tinggal di dalam kantor Rudenim. Salah satunya perempuan hamil berusia 37 pekan.
Rudenim, ujar Monita, sering disalahkan masyarakat sekitar karena tak sanggup menampung para pencari suaka yang terlantar di trotoar. Untuk meminta mereka masuk ke dalam pun tak memungkinkan dengan kapasitas Rudenim yang terbatas.
“Sekarang pun sudah melebihi kapasitas,” katanya.
Selain di Rudenim, pemerintah juga menampung 921 pencari suaka di Community House di Tangerang Selatan, Jakarta Selatan dan Jakarta Barat
Untuk penanganan lebih lanjut, pemerintah telah berkoordinasi dengan International Ogranization for Migration (IOM) sebagai fasilitator para pengungsi.