Megiza Soeharto Asmail
27 November 2017•Update: 28 November 2017
Megiza Asmail
JAKARTA
Badan Nasional Penanggulangan Bencana menargetkan bakal mengungsikan lebih dari 100 ribu warga di 22 desa yang rawan terkena dampak erupsi Gunung Agung.
Kepala Pusat Data Informasi dan BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan pihaknya bersama dengan aparat tidak menutup kemungkinan melakukan evakuasi paksa kepada warga di puluhan desa tersebut.
“Perkiraan awal 90 ribu sampai 100 ribu yang harus dievakuasi. Tapi saat ini belum semuanya mengungsi, karena alasan ternak yang belum dievakuasi, merasa masih aman, dan alasan lainnya. Dalam hal ini, aparat yang melakukan penyisiran, tetapi kalau perlu kita lakukan evakuasi paksa,” kata Sutopo di Jakarta, Senin.
Sejak 25 November malam, lanjut Sutopo, sebagian masyarakat sudah melakukan evakuasi mandiri. BNPB memperkirakan ada sekitar 40 ribu warga yang sudah meninggalkan rumah dan kembali masuk ke dalam posko pengungsi.
Lebih lanjut, BNPB juga telah membagi tiga wilayah Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Agung. Pertama, KRB III yakni wilayah yang sangat rawan dilanda awan panas, aliran lava, guguran batu, lontaran batu pijar dan juga hujan abu lebat.
Kemudian, kata Sutopo, wilayah dengan KRB II terancam bahaya awan panas, aliran lava, lahar, serta lontaran material dan batu pijar. “Sedangkan KRB I yakni mengalami bahaya dari landaan lahar dan kemungkinan perluasan awan panas,” sebut dia.
Mengenai 22 desa yang dipastikan terdampak, Sutopo menjabarkan, yakni Desa Ababi, Pidpid, Nawakerti, Datah, Bebandem, Jungutan, Buana Giri, Tulamben, Dukuh, Kubu, Baturinggit, Ban, Sukadana, Menanga, Besakih, Pempatan, Selat, Peringsari, Muncan, Duda Utara, Amertha Bhuana dan Sebudi.
Dibandingkan dengan masa awal erupsi pertama Gunung Agung pada September lalu, Sutopo menilai, masyarakat Bali yang tinggal di kawasan rawan bencana kini sudah tidak panik lagi.
“Pengungsi September mencapai 183ribu. Sekarang karena sosialisasi kita teruskan, jadi masyarakat evakuasi dengan tertib dan aman, jadi secara umum tidak ada kepanikan,” ujar Sutopo.
Meski sudah status Gunung Agung sudah dinaikan menjadi Awas sejak pukul 06.00 WITA pagi ini, Sutopo menyebut, daerah wisata di Bali seperti Tanah Lot, Kuta, dan Ubud masih aman.
Dia menjelaskan, sejak mulai meletus pada 25-26 November sudah lebih dari 9 ribu penumpang menuju Bali dibatalkan perjalanannya. “Pada 25 November sekitar 2.087 penumpang dan 26 november 7.185 penumpang dibatalkan,” kata dia.
“Yang dikhawatirkan wisatawan bukan erupsinya, tetapi akses untuk pulang. Mereka harus tinggal lama di dalam Bali atau ke Jawa Timur. Saat ini 100 bis sudah disiapkan di Bandara Ngurah Rai untuk evakuasi penumpang, apakah ke wilayah Jawa Timur atau NTB. Sangat tergantung sebaran abu vulkanik,” kata Sutopo.