05 September 2017•Update: 06 September 2017
Pizaro Gozali
JAKARTA
Menyusul kekerasan terakhir di Rakhine, Myanmar, kelompok Budha di Indonesia mengaku perihatin dan berharap ketegangan dapat berakhir.
“Kami mengecam tindakan kekerasan terhadap etnis Rohingya dan meminta pemerintah Myanmar menghentikan penindasan,” ujar Ketua Umum Generasi Muda Buddhis Indonesia (Gema Budhi), Bambang Patijaya dalam pernyataan bersama pemuda lintas agama di Gedung Muhammadiyah, Jakarta, Senin.
Bambang berharap masyarakat Indonesia dapat menahan diri dan tidak memperkeruh suasana dengan menyebarkan foto dan video kasus-kasus kekerasan terhadap etnis Rohingya di masa lalu.
“Kita lihat di media sosial ada pencampuradukkan berita tahun 2012, 2016 dan 2017. Yang lalu biarlah berlalu,” ucap dia.
Bambang mengaku lembaganya akan terus bersinergi dengan pemuda Muhammadiyah agar situasi di Rakhine kembali normal.
“Kami berharap kekerasan secepatnya dapat dihentikan,” kata dia.
Sementara itu, biksu Budha Vidya Sasana mengatakan ajaran agamanya melarang untuk menyakiti orang lain. “Agama Budha dasarnya cinta kasih. Kita kecam kekerasan terhadap Rohingya,” ujar dia dalam kesempatan yang sama.
Pembina di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Budhi Dharma ini menegaskan, pemerintah Myanmar sangat mengharapkan dukungan dari Indonesia. “Dari awal bangsa kita adalah bangsa yang majemuk.”
Ia juga mengharapkan demonstrasi yang akan digelar sejumlah pihak di Candi Borobudur dapat diurungkan. "Candi Borobudur adalah situs suci umat Budha dan warisan dunia. "Semoga aksinya bisa dipindahkan ke tempat lain. Itu adalah candi yang penuh cinta kasih," ujar Vidya.
Kekerasan meletus di Rakhine, barat Myanmar, pada 25 Agustus, ketika pasukan pemerintah melancarkan operasi militer terhadap etnis Muslim Rohingya, sehingga memicu masuknya pengungsi baru ke negara tetangga Bangladesh, meskipun Bangladesh telah menutup perbatasannya untuk para pengungsi.
Laporan media menyebutkan, tentara menggunakan kekerasan dalam operasi militer, dengan menyerang desa orang-orang Rohingya dengan mortir dan senapan mesin.
Konflik antara umat Buddha dan Muslim dimulai sejak kekerasan komunal meletus pada 2012.
Oktober tahun lalu, aksi kekerasan terjadi di Maungdaw. PBB mencatat adanya pelanggaran hak asasi manusia oleh pasukan keamanan, yang dapat diindikasikan sebagai kejahatan kemanusiaan, di antaranya adalah pemerkosaan massal, pembunuhan – termasuk bayi dan anak kecil – pemukulan brutal, dan penghilangan paksa. Menurut perwakilan Rohingya, sekitar 400 jiwa tewas dalam aksi kekerasan tersebut