Maria Elisa Hospita
13 Agustus 2018•Update: 14 Agustus 2018
Nilay Kar Onum
ISTANBUL
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengkritik Amerika Serikat, dan menegaskan bahwa Turki akan mengucapkan "selamat tinggal" kepada mereka yang memilih teroris sebagai mitra strategisnya.
"Kami hanya bisa bilang selamat tinggal kepada mereka, yang mengorbankan kemitraan strategis dan aliansinya dengan negara berpenduduk 81 juta orang demi mempertahankan hubungannya dengan organisasi-organisasi teror," tegas Erdogan dalam rapat Partai Keadilan dan Pembangunan (AK) di Provinsi Trabzon, timur laut Turki, pada Minggu.
Hubungan Turki dan AS tengah memanas setelah Washington memberlakukan sanksi ke Menteri Dalam Negeri Suleyman Soylu dan Menteri Kehakiman Abdulhamit Gul karena tidak membebaskan Pastor Amerika Andrew Brunson, yang diduga terlibat aktivitas terorisme di Turki.
Sebelumnya, pada Jumat, Presiden AS Donald Trump menekan Turki dengan menggandakan tarif AS pada impor aluminium dan baja Turki, masing-masingnya menjadi 20 persen dan 50 persen.
Erdogan mengatakan bahwa Turki akan beralih ke pasar baru, mitra baru dan alat keuangan alternatif.
"Jika Anda menekan kami dengan dolar, kami akan mencari cara lain untuk melaksanakan pekerjaan kami," tambah Erdogan.
"Kami akan menanggapi keputusan itu - yang menyatakan perang terhadap seluruh dunia termasuk negara kami - dengan beralih ke pasar baru, mitra baru, dan aliansi baru," kata dia lagi.
Presiden Turki menyebut pemberlakuan tarif AS ke Turki baru-baru ini sebagai "perang ekonomi".
Tujuan AS adalah "untuk menekan Turki di setiap bidang, dari keuangan ke politik. "Kami tidak akan menyerah. Kami akan terus memproduksi. Kami akan terus meningkatkan ekspor kami," tandas Erdogan.