Maria Elisa Hospita
30 April 2018•Update: 01 Mei 2018
Hatice Senses Kurukiz, Ismail Ozdemir
ISTANBUL
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Minggu mengatakan bahwa sistem presidensial yang baru akan menjadi "titik balik" dalam perkembangan negara itu.
Di hadapan kongres pemuda Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) di Istanbul, Erdogan mengatakan, "Turki telah mencapai momen yang menentukan dengan sistem presidensial. Titik balik ini akan menjadi langkah maju Turki."
Awal bulan ini, parlemen meloloskan RUU penyelenggaraan pemilihan umum dini pada 24 Juni, yang memantapkan langkah Turki menuju sistem presidensial.
Dalam referendum April 2017, para pemilih mendukung peralihan dari sistem parlementer ke sistem kepresidenan.
Peralihan tersebut menyebabkan sejumlah perubahan, termasuk peningkatan jumlah anggota parlemen dari 550 menjadi 600, pemilihan presiden dan parlemen diadakan setiap lima tahun sekali, dan presiden tetap dapat terlibat dalam aktivitas partai politiknya. Jabatan perdana menteri pun dihapuskan.
Erdogan juga menyatakan bahwa Turki telah "berhasil" melanjutkan operasi kontra-terornya.
“Kami melanjutkan perjuangan kami di Gabar, Cudi, Tendurek, Qandil, dan Bestler Creek. Saat ini, jumlah teroris yang ditaklukkan di Afrin [barat laut Suriah] telah mencapai 4.500, dan lebih dari 300 teroris ditaklukkan di Irak utara," ungkap presiden.
Dia mengkritik oposisi utama Partai Rakyat Republik (CHP) karena memindahkan 15 anggota parlemennya ke partai politik lain dan mengatakan, "Ini adalah hal yang memalukan dalam sejarah politik kita,"
Pekan lalu, 15 perwakilan dari CHP bergabung dengan Partai IYI yang baru terbentuk.
Dalam kongres tersebut, Perdana Menteri Binali Yildirim juga mengatakan, pemuda bukan hanya harapan untuk masa depan yang cerah, tetapi juga kawan untuk perjuangan hari ini.