Hayati Nupus
13 Oktober 2017•Update: 14 Oktober 2017
Hayati Nupus
JAKARTA
Ancaman terorisme dan gerakan ekstrem menjadi salah satu bahasan pertemuan Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu dan Menteri Pertahanan Republik Sosialis Vietnam Jenderal Ngo Xuan Lich di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, pada Jumat.
Salah satu ancaman terorisme itu dengan adanya Daesh yang telah menyerbu Kota Marawi, Filipina Selatan, sejak Mei lalu. Tema ini telah menjadi pembahasan regional dan bersifat multidimensional, kedua negara berupaya mengantisipasi kemungkinan terburuk.
“Ini jenis ancaman nyata, terjadi di masa kini dan sewaktu-waktu bisa terjadi di masa datang,” kata Menteri Ryamizard.
Selain ancaman terorisme, pada pertemuan tersebut kedua menteri juga membahas tiga hal penting lainnya, yaitu perkembangan nuklir Korea Utara, konflik Laut Cina Selatan, dan kerja sama bilateral kedua negara.
Ryamizard mengatakan semua negara, terutama PBB, menghimbau agar Korea Utara tak meluncurkan rudal balistik yang bisa membahayakan dunia.
Konflik Laut Cina Selatan, kata Ryamizard, cukup mereda setelah pertemuan Indonesia dengan delegasi Tiongkok 2016 lalu.
Kepada Indonesia, ujar Ryamizard, delegasi Tiongkok menyatakan bahwa pihaknya terbuka untuk membahas konflik bersama Laut Cina Selatan. Komunikasi serupa kemudian dilakukan TIongkok dengan negara ASEAN lainnya.
“Laut Cina Selatan pekarangan rumah kita bersama, mari kita manfaatkan,” katanya.
Sedang soal kerja sama bilateral, Indonesia dan Vietnam bersepakat untuk mendukung dialog strategis pertahanan (Defence Policy Dialogue/DPD) yang akan diselenggarakan pada 2018 mendatang dan akan mengimplementasikan hasil dialog itu dalam kerja bersama.
“Setahun belakangan militer kita dan Vietnam telah berpatroli laut dan udara bersama,” kata dia.
Pertemuan bilateral itu juga membahas kerja sama menjaga perdamaian, penjajakan kerja sama industri pertahanan, keamanan maritim terutama wilayah perairan Kepulauan Sulu Filipina, ilegal fishing, pencemaran lingkungan, wabah penyakit dan peredaran Narkoba.
“Ancaman ini kompleks, perlu kerja sama antar negara di kawasan dan saling membantu,” kata dia.
Menteri Pertahanan Republik Sosialis Vietnam Jenderal Ngo Xuan Lich mengatakan kesepakatan kerja sama kedua negara ini menindaklanjuti kesepakatan serupa yang telah ditanda tangani sejak 2010 lalu.
“Termasuk pertukaran delegasi pertahanan kedua negara dalam pendidikan, Vietnam dan Indonesia merupakan partner strategis,” kata dia.
Vietnam telah mengirimkan satu orang pelajarnya untuk belajar militer di Indonesia sedang Indonesia telah mengirimkan 12 orang untuk bersekolah militer di Vietnam.
Ryamizard mengatakan kerja sama kedua negara sudah terjalin sejak 30 Desember 1955. Kunjungan Menteri Pertahanan Republik Sosialis Vietnam Jenderal Ngo Xuan kali ini merupakan kunjungan balasan atas kedatangan Menteri Ryamizard ke Vietnam Agustus tahun lalu.