Pizaro Gozali İdrus
19 September 2018•Update: 20 September 2018
Pizaro Gozali
JAKARTA
Pemerintah Indonesia meminta Malaysia menjamin keamanan ribuan warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja di sektor perikanan di perairan Sabah.
Hal ini menyusul kembali terjadinya penculikan kepada dua WNI di perairan Sabah, Malaysia, pada 11 September lalu.
Kedua WNI yang diculik diketahui bernama Samsul Saguni, 40 tahun, kelahiran Kabupaten Poliwali Mandar, Sulawesi Barat dan Usman Yunus, 35 tahun, kelahiran Poniang, Sulawesi Barat.
“Kita sampaikan kepada pemerintah Malaysia kenapa ini masih bisa terjadi karena itu masih di dalam jangkauan Malaysia,” ujar Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Kementerian Luar Negeri RI Lalu Muhammad Iqbal pada Rabu di Jakarta.
Iqbal menyampaikan ada sedikitnya 6.000 WNI yang bekerja di sektor perikanan di wilayah Sabah.
Pemerintah RI pada 2016 sudah menginisasi pertemuan trilateral antara Indonesia, Malaysia, Filipina untuk mengamankan perairan di utara Sulawesi, Sulu, dan Sabah sebagai wilayah suplai logistik ke tiga negara.
Namun, terang Iqbal, kerja sama ini perlu dikaji lagi setelah untuk kesekian kalinya terjadi penculikan kepada WNI.
“Kenapa bisa kecolongan lagi? Padahal dari awal 2017 lalu sampai kemarin penculikan sudah tidak terjadi kembali," ungkap Iqbal.
Iqbal menyampaikan pemerintah masih terus mendalami motif di balik penyanderaan, sementara mengaku belum mengetahui siapa pelaku penyanderaan.
Menurut Iqbal, para penyandera biasanya butuh waktu dua hingga tiga pekan untuk menghubungi perusahaan kapal yang mempekerjakan para sandera.
“Kita masih menunggu," kata Iqbal.
Total ada 34 WNI yang menjadi sandera di Filipina selatan sejak 2016. Sebanyak 13 di antaranya nelayan yang diculik di Perairan Sabah, Malaysia, dengan 11 orang sudah dibebaskan.
"Jadi saat ini masih tersisa dua WNI lagi yang diculik pada 11 September lalu,” ujar Iqbal.