Erric Permana
14 Februari 2018•Update: 15 Februari 2018
Erric Permana
JAKARTA
Kepala Staf Presiden Moeldoko menilai jumlah anggota pengamanan di desa-desa masih sangat minim, sehingga kasus kekerasan masih sering terjadi.
Misalnya keberadaan Bintara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Babinkamtibmas) dari Kepolisian dan Bintara Pembina Desa (Babinsa) di desa-desa belum memadai, padahal keberadaan mereka sangat dibutuhkan.
“Sebenarnya Babinkamtibmas dan Babinsa adalah peran negara yg dimajukan. Dia mewakili negara berada paling depan. sehingga semua hal yg terjadi di lingkungan masyarakat, Babinkamtibmas dan Babinsa itu mengikuti,” ujar Moeldoko di kantornya pada Rabu.
“Itu memang persoalan yang dihadapi, seperti Babinkamtibmas Babinsa. Bisa satu orang itu [bertugas di] lima desa. Babinkamtibmas juga saya pikir tidak semua desa terisi,” sambung Moeldoko.
Terkait dengan banyaknya serangan terhadap pemuka agama di daerah, Moeldoko mengaku mendapatkan informasi dari Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian bahwa kasus tersebut tidak saling berkaitan.
“Seperti yang terjadi di Tuban, pelaku sakit TBC dan setiap hari dia harus suntik. Dia kesulitan dana,dan akan pergi ke Kyai. Ditengah jalan dia kehabisan bensin, terus ke masjid. Setelah sampai di masjid dia ditegur sama yang jaga masjid. Nah di situ dia marah, melakukan kekerasan memecahin kaca dan kegiatan fisik. sama sekali tidak ada kaitannya [dengan kasus lain],” jelas Moeldoko.
Bahkan dia memastikan kasus kekerasan itu tidak berkaitan juga dengan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).
“Karena kejadian berdekatan dengan Pilkada, maka semuanya itu selalu dihubungkan. kalau kejadiannya kira kira tiga bulan yang lalu orang tidak begitu care,” sambung dia.