12 Agustus 2017•Update: 12 Agustus 2017
Shenny Fierdha
JAKARTA
Kepala Biro Hubungan Masyarakat, Data, dan Informasi Kementerian Agama Mastuki mengatakan pihaknya masih melakukan konfirmasi mengenai kabar 40 orang calon jemaah haji “ilegal” Indonesia dari Sulawesi Selatan.
Ketika ditemui di kantor Direktorat Jenderal Haji dan Umroh Kementerian Agama (Kemenag) di Jakarta Pusat, ia belum bisa berkomentar banyak. Walau demikian, pihaknya terus memantau perkembangan kasus ini.
“Kita akan melihat status biro travel atau Panitia Penyelenggara Ibadah Haji [PPIH] itu, apakah betul sudah terdaftar di kami [Kemenag] atau tidak,” kata Mastuki, Jum'at.
Travel Meida Wisata merupakan biro travel yang mengurus perjalanan haji ke-40 calon jemaah haji. Jemaah tersebut datang dari Kota Makassar, Kabupaten Gowa, bahkan Kota Balikpapan (Kalimantan Timur) itu.
Mereka batal berangkat ke tanah suci lantaran memakai visa ziarah dari Arab Saudi alih-alih visa haji. Visa ziarah tentunya tidak boleh digunakan untuk ibadah haji.
Prosedur perjalanan haji Travel Meida Wisata ini pun tidak seperti perjalanan haji reguler yang dijalankan Kemenag. Calon jemaah haji biasanya diberangkatkan melalui bandar udara (bandara) di Indonesia dan langsung mendarat di tanah suci.
Namun, para calon jemaah haji Travel Meida Wisata ini justru dijadwalkan terbang dari Makassar ke Singapura, lalu melanjutkan penerbangan ke Srilanka. Dari situ, mereka akan lanjut ke Riyadh dan berangkat ke Mekkah lewat jalur darat.
Menurut Mastuki, jika biro travel terebut sudah mengantongi izin resmi namun malah melakukan tindakan yang tak sesuai standar seperti itu, maka Kemenag akan menindak tegas.
“Namun jika itu bukan biro travel berizin resmi, bironya bisa kita polisikan,” ujarnya.
Kantor Imigrasi Kelas 1 Makassar, Sulawesi Selatan, membatalkan keberangkatan ke-40 calon jemaah haji ilegal tersebut pada Rabu. Petugas imigrasi Bandara Internasional Sultan Hasanuddin mencurigai rombongan sebab mereka memberikan keterangan yang berbeda-beda ketika para petugas menanyakan tujuan perjalanan mereka.