Maria Elisa Hospita
30 Januari 2018•Update: 30 Januari 2018
Zakaria Kamali
ADEN, Yaman
Kepresidenan Yaman pada Senin mengecam konflik yang baru saja terjadi di selatan provinsi Aden, dengan menyebutnya "kudeta".
Menurut kantor berita Yaman SABA, Presiden Abdrabbuh Mansur Hadi kemarin menggelar pertemuan darurat untuk membahas "kudeta tidak sah oleh Dewan Transisi Selatan (STC)". Hadi juga menyebut dewan tersebut sebagai "separatis selatan".
"Apa yang terjadi di Aden adalah kudeta tidak sah yang ditandai dengan tindakan tidak bertanggung jawab, dan telah membuat penduduk setempat yang mendukung pemerintah takut," kata seorang peserta pertemuan seperti dilansir oleh SABA.
"Tindakan ini menimbulkan sejumlah pertanyaan mengenai siapa yang diuntungkan, terutama mengingat keberhasilan militer baru-baru ini - di berbagai bidang - dalam melawan pemberontak Houthi,"
Berdasarkan laporan terbaru dari Kementerian Kesehatan Yaman, setidaknya 16 orang tewas di Aden, dalam bentrokan baru-baru ini antara pasukan pro-pemerintah dan separatis selatan.
Bentrokan meletus pada Minggu setelah pasukan loyalis STC menduduki kantor pusat pemerintah di kota pesisir tersebut.
Ketegangan terus meningkat di Aden sejak STC mendesak pengunduran diri Perdana Menteri Ahmed bin Daghr, dan menuding pemerintah membiarkan Yaman jatuh ke ambang bencana kelaparan.
Amerika Serikat (AS) juga menyatakan bela sungkawa sekaligus mendesak semua pihak untuk menahan diri.
"Dialog politik merupakan satu-satunya cara untuk mewujudkan Yaman yang lebih stabil, terpadu, dan makmur. Rakyat Yaman telah menderita karena krisis kemanusiaan yang mengerikan. Perpecahan dan kekerasan lainnya hanya akan menambah penderitaan mereka," ujar juru bicara Departemen Luar Negeri AS Heather Nauert dalam pernyataan.
Pemberontak Houthi menguasai sebagian besar wilayah negara tersebut, termasuk ibu kota Sanaa, pada 2014, yang memaksa pemerintah Yaman yang didukung Saudi untuk mendirikan ibu kota sementara di Aden.
Setahun kemudian, Arab Saudi dan sekutu Arab Sunni melancarkan kampanye militer besar-besaran untuk mengambil alih wilayah yang diduduki Houthi.