Pizaro Gozali İdrus
20 Februari 2019•Update: 21 Februari 2019
Pizaro Gozali
JAKARTA
Malaysia mendukung proposal Qatar Financial Centre untuk memiliki platform dan teknologi bersama dengan negara-negara lain untuk melayani pasar keuangan Islam global senilai USD2 triliun, lansir New Straits Times pada Selasa.
"Malaysia mendukung inisiatif guna memiliki standar bersama dengan pusat keuangan lainnya untuk menanamkan kepercayaan pada keuangan Islam," kata Direktur Eksekutif Akademi Riset Keuangan Syariah untuk Keuangan Islam (ISRA) Internasional Mohammad Akram Laldin.
Dia mencatat Malaysia adalah pelopor global di pasar modal setelah mendirikan bank syariah pertama pada tahun 1983 dan memprakarsai perusahaan asuransi syariah pertama pada tahun 1984.
Malaysia terus menjadi salah satu penerbit sukuk terbesar di dunia atau obligasi yang memenuhi persyaratan syariah sebesar RM112,4 atau sekitar Rp390 triliun pada Desember tahun lalu.
Nilai ini mewakili sepertiga dari pasar global.
Dia menjelaskan Bank Negara Malaysia telah menandatangani nota kesepahaman dengan otoritas pengatur keuangan Islam di Qatar dan Dubai pada 2007 untuk mempromosikan kerja sama antara negara.
Selama lebih dari satu dekade, upaya untuk mengkonsolidasikan industri keuangan Islam global belum mencapai konsensus. Hal ini mengalami hambatan karena persaingan regional dan kurangnya standar bersama.
"Kita perlu lebih berkomitmen untuk membuat standar bersama dalam legalitas, perpajakan, dan tata kelola keuangan Islam dengan sebanyak mungkin negara," kata Akram kepada wartawan di sela-sela Dialog Fintech Islam 2019 (IFD 2019).
ISRA, didirikan pada 2008 oleh Bank Negara, adalah lembaga penelitian keuangan Islam, yang fokus pada nilai-nilai Syariah.
IFD 2019 diselenggarakan oleh ISRA bekerja sama dengan Finterra dan Asosiasi Penasihat Syariah (ASAS) untuk memfasilitasi dan mengembangkan ekonomi Islam pada skala global.
Akram menanggapi pernyataan kepala eksekutif Qatar Financial Center (QFC) Yousef Mohamed Al Jaida bahwa tiga negara Muslim yaitu Qatar, Malaysia dan Turki dapat bekerja sama untuk secara global meningkatkan profil keuangan Islam.
"Kami memiliki visi bahwa Turki akan memenuhi kebutuhan keuangan Islam di Eropa, Qatar akan melayani Timur Tengah yang lebih besar dan Malaysia akan melayani Asia," ujar Yousef di sela-sela Forum Doha 2018 dua bulan lalu.
Saat ini, pusat keuangan yang mapan seperti London Stock Exchange adalah tempat global untuk penerbitan sukuk, sementara Hong Kong dan Luksemburg juga telah membuat terobosan tetapi QFC percaya pasar keuangan Islam harus dipimpin negara-negara Muslim.
Keuangan Islam melarang bunga, aktivitas spekulatif, dan memanfaatkan transaksi tak pasti.
Bisnis atau industri yang berkenaan dengan babi, alkohol, dan tembakau dianggap tidak mematuhi hukum Syariah.