Diyar Guldogan
ANKARA
Laut Mediterania berubah menjadi kuburan bagi orang-orang yang putus asa, Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu, Senin.
"Biarkan saya menggarisbawahi kenyataan yang mengerikan. Laut Mediterania, tempat lahirnya peradaban berabad-abad, menjadi kuburan bagi orang-orang yang putus asa," kata Cavusoglu dalam pidatonya pada acara Majelis Umum PBB yang diberi judul "Global Compact on Refugees: Sebuah Model untuk Solidaritas dan Kerja Sama yang Lebih Besar. "
Cavusoglu mengatakan bahwa secara global ada sekitar 260 juta migran, lebih dari 68 juta orang terlantar dan lebih dari 25 juta pengungsi.
"Angka-angka ini terus meningkat karena alasan seperti kelaparan, kekeringan, perang saudara, terorisme dan ketidakstabilan politik. Dalam hal ini, tidak ada pemerintah yang dapat mengabaikan masalah ini," kata diplomat senior Turki itu. "Anak-anak yang mati terdampar di pantai adalah hal yang memalukan bagi seluruh dunia dan kemanusiaan."
Pada September 2015, balita Suriah berusia 3 tahun, Aylan Kurdi, ditemukan terdampar di pantai Turki, mendorong kecaman internasional atas krisis pengungsi di Eropa.
Lebih dari 1.500 orang, termasuk anak-anak, telah meninggal di laut pada 2018 dalam perjalanan yang mirip dengan Aylan dan keluarganya, menurut laporan PBB yang diterbitkan 3 September.
Cavusoglu mengatakan bahwa Turki tidak pernah meninggalkan orang-orang tak berdosa ke tangan rezim Suriah yang "brutal" atau kelompok-kelompok teror Daesh atau PKK / YPG, sementara dia menyoroti upaya Turki untuk mengurangi krisis.
"Kami telah menyediakan tempat tinggal bagi semua orang yang mencari perlindungan internasional di wilayah kami tanpa mempertimbangkan perbedaan etnis, agama atau sektarian," katanya.
Bagian dari perlindungan yang disoroti oleh Cavusoglu adalah fakta bahwa Turki telah menghabiskan lebih dari USD32 miliar dari sumber keuangannya sendiri untuk merawat pengungsi, menambahkan bahwa dana tersebut termasuk layanan pendidikan, kesehatan dan psikologis bagi individu yang membutuhkan.
"Sayangnya, beban berat konsekuensi kemanusiaan dari krisis Suriah telah dilimpahkan ke bahu Turki. Komitmen belum terpenuhi. Permintaan kami untuk berbagi beban dan tanggung jawab tidak didengar.
"Namun, kami terus mengejar pendekatan kemanusiaan," kata Cavusoglu. "Kami telah menunjukkan sikap seperti itu dalam krisis terbaru di Idlib."
Cavusoglu mengatakan pertemuan puncak trilateral di Teheran antara Turki, Rusia dan Iran, dan pertemuan Sochi antara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia, Vladimir Putin, berusaha mencegah tragedi kemanusiaan besar.
"Kami telah menunjukkan bahwa sambil mempertahankan tekad kami dalam memerangi terorisme, kami juga dapat melindungi warga sipil dan daerah pemukiman. Berkat upaya tersebut, kami juga telah secara signifikan mengurangi aliran migrasi baru dari Suriah ke Turki dan negara-negara Uni Eropa," tambahnya.
Suriah telah terkunci dalam perang sipil yang ganas sejak awal 2011 ketika rezim Assad menindak keras protes pro-demokrasi dengan keganasan yang tidak terduga.
Sejak itu, ratusan ribu orang diyakini telah tewas dan jutaan lainnya mengungsi karena konflik.
Cavusoglu menutup pidatonya dengan mengatakan bahwa Turki menantikan pengesahan Persetujuan Global tentang Pengungsi di sesi ke-73 Majelis Umum dan implementasi penuhnya.
"Kami mendukung persetujuan tersebut sebagai teks referensi untuk pembagian beban dan tanggung jawab lebih lanjut. Kami berharap bahwa dokumen ini akan menjadi dasar bagi langkah-langkah konkret terkait masalah ini. Turki akan terus mengawasi implementasi penuh persetujuan ini setelah diresmikan," dia berkata.
news_share_descriptionsubscription_contact

