Hayati Nupus
JAKARTA
Peneliti mengatakan bahwa pelaku kontra-narasi gerakan ekstrem di Asia Tenggara kalah kreatif soal teknologi digital ketimbang kelompok ekstrem itu.
Peneliti Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri Jakarta Yusuf Rahman mengatakan produk dakwah digital milik gerakan ekstrem digarap lebih serius, dengan visual bergaya milenial dan sebaran yang masif.
“Itu yang menjadikan website-website dan produk digital mereka lebih menarik generasi milenial ketimbang produk serupa berisikan pemahaman keagamaan modern dan progresif,” ujar Yusuf kepada Anadolu Agency, di sela-sela workshop regional Religious Education and Prevention of Violent Extremism in Diverse Societies in Southeast Asia: Lesson Learned and Best Pratises, Rabu di Jakarta.
Workshop yang digelar PPIM dan Convey Indonesia ini diikuti oleh pegiat digital dan counter-terorism dari berbagai lembaga di Asia Tenggara.
Asia Tenggara diserbu gerakan ekstrem
Yusuf mengatakan Indonesia dan negara-negara lain di Asia Tenggara seperti Malaysia, Filipina, Brunei Darussalam dan Kamboja memiliki persoalan serupa. Menjadi serbuan gerakan ekstrem keagamaan yang berupaya mengganti legitimasi negara.
Gerakan ekstrem tersebut, lanjut Yusuf, menargetkan generasi milenial sebagai kader berikutnya.
Mereka, ujar Yusuf, gencar mendakwahkan pemikiran soal gerakan ekstrem itu dengan memproduksi buku-buku populer sesuai perspektif pemahaman keagamaan mereka. Sekaligus menyebarkan pemahaman serupa dengan teknologi digital. Lewat berbagai media sosial dan laman maya.
Sejumlah fakta dan penelitian, kata Yusuf, sudah sering menunjukkan bagaimana pemahaman ekstrem itu masuk melalui sekolah lewat buku-buku dan pengajar yang memiliki pemikiran ekstrem.
Dengan kreativitas yang mereka miliki soal digital, ada banyak generasi milenial Asia Tenggara yang tergaet pemahaman timpang itu.
“Banyak anak-anak yang sudah terpapar dengan pemikiran dan opini-opini radikal, penelitian soal itu juga sudah banyak,” menurut Yusuf.
Padahal Indonesia dan negara-negara lain di Asia Tenggara, ujar Yusuf, memiliki banyak pakar keagamaan yang fasih soal pemikiran modern dan progresif. Pemahaman keagamaan mereka didukung dengan studi mendalam dan lama, juga dengan riset yang kuat.
Sayangnya, kata Yusuf, pemahaman keagamaan modern dan progresif itu lebih banyak disampaikan lewat dunia nyata ketimbang maya. Kalaupun ada yang disampaikan lewat dunia maya, masih bergaya lama. Berupa teks keagamaan yang tak menarik minat generasi milenial atau ceramah dengan durasi yang terlalu panjang.
Sedang secara psikologis, menurut Yusuf, generasi milenial lebih tertarik dengan teks pendek atau sajian visual bergaya kekinian atau video berdurasi pendek.
Yusuf mengakui, penetrasi literasi digital di Asia Tenggara masih lemah. Mereka belum sampai memahami berapa menit durasi video yang sesuai dengan psikologis generasi milenial dan pada pukul berapa audiens anak-anak muda itu lebih aktif.
“Literasi digital kita masih lemah. Secara pendidikan agama kita oke, tapi bagaimana cara membuat agar isu itu menarik, itu masih menjadi masalah. Kita perlu lebih kreatif lagi mengemas informasi ini sehingga menjadi menarik, enak dibaca dan ditonton,” urai Yusuf panjang lebar.
Pengajar di Universitas Teknologi Malaysia Hilmi Bakar yang menjadi salah satu peserta workshop ini mengamini pernyataan Yusuf. Seperti Indonesia, negaranya memiliki banyak pakar keagamaan namun mereka berkemampuan terbatas soal digital.
Jangankan untuk mendakwahkan pemikiran moderatnya lewat media sosial, lanjut Hilmi, bahkan pakar keagamaan itu pun kerap gagap saat menggunakan teknologi.
“Malah akhirnya mereka menjadi korban fake news juga,” kata Hilmi.
Berkebalikan dengan anak-anak muda, ujar Hilmi, yang lebih mudah menyerap teknologi namun masih memiliki pemahaman minim soal keagamaan.
- Saring sebelum sharing
Pegiat Duta Damai Dunia Maya Hafsah, menekankan pentingnya agar pegiat pendidikan keagamaan melek teknologi. Dia menuturkan pengalamannya saat menjadi relawan gempa bumi di Lombok, Nusa Tenggara beberapa bulan lalu.
Saat itu berseliweran isu soal adanya kristenisasi di balik bantuan yang disumbangkan relawan untuk korban gempa Lombok.
Isu itu, kata Hafsah, tak hanya menimbulkan kecurigaan yang berlebihan bagi warga korban gempa bumi, melainkan juga menjadikan proses penanganan pasca bencana itu terkendala.
“Relawan non-muslim jadi ketakutan untuk ke lapangan,” ujar Hafsah.
Oleh karena itu, menurut Hafsah, generasi digital tak boleh gagap teknologi. Duta Damai Dunia Maya yang dibentuk oleh Badan Nasional Penanganan Terorisme (BNPT) di berbagai daerah, kata Hafsah, gencar mengkampanyekan agar generasi digital menyaring informasi terlebih dahulu sebelum menyebarkannya.
“Kita kampanyekan saring sebelum sharing,” kata Hafsah.
Upaya serupa juga dilakukan oleh Yayasan Pengkajian Hadis el-Bukhari. Pegiat el-Bukhari Masrur menuturkan pihaknya berupaya meluruskan pemahaman keagamaan yang tak sesuai itu dengan publikasi landasan hadis Islami.
Hadis-hadis tersebut dikemas secara kontekstual dengan isu-isu kekinian. Misalnya soal politik, kemasyarakatan, perbedaan tanggal lahir nabi, hingga kehidupan sehari-hari seperti puasa dan haid.
Yusuf mengatakan lembaga atau gerakan yang berupaya mengampanyekan Islam damai seperti Duta Damai Dunia Maya dan Yayasan Pengkajian Hadis el-Bukhari sudah mulai bermunculan, meski jumlahnya masih terbatas dan kalah gencar ketimbang serbuan gerakan ekstrem. Ke depan, ujar Yusuf, perlu ada kreativitas lebih untuk itu.
Seperti Yusuf, seluruh peserta workshop hari itu juga memiliki kesimpulan yang sama, perlu peningkatan kapasitas sekaligus kerja sama berbagai lembaga untuk menandingi serbuan gerakan ekstrem lewat digital.
“Kalau lembaga dan gerakan-gerakan ini sinergis, harapannya gaungnya akan lebih besar, generasi milenial akan lebih tertarik dengan produk digital yang bermuatan pemahaman keagamaan moderat dan mereka tidak begitu saja terjerat pemikiran radikal,” kata Yusuf.
news_share_descriptionsubscription_contact
