Hayati Nupus
JAKARTA
Pakar kesehatan menyebutkan penggunaan bahan mineral asbes berpotensi buruk pada kesehatan masyarakat.
Professor kedokteran okupasi Dennis Nowak mengatakan, berdasarkan penelitiannya, debu asbes dapat berdampak buruk pada paru-paru, bahkan memicu kanker ovarium.
“Ada empat jenis kanker yang disebabkan asbes, yaitu kanker laring, kanker paru, kanker permukaan paru atau mesothelioma dan kanker ovarium bagi perempuan,” ujar Nowak dalam kuliah umum di Universitas Indonesia, Rabu, seperti dalam siaran pers.
Berdasarkan riset Nowak, setidaknya 1500-2000 orang meninggal akibat terpapar debu asbes. Itu terjadi di Jerman dan berbagai negara lainnya. Negara tersebut kini sudah melarang penggunaan asbes di masyarakat.
Nowak menekankan Indonesia perlu mencontoh Jerman yang telah melarang penggunaan asbes di masyarakat.
“Jika tidak, Nowak memperkirakan Indonesia akan menghadapi ledakan penyakit akibat asbes 30 tahun mendatang, seperti di Jerman dulu,” kata Nowak.
Berdasarkan catatan Nowak, importasi asbes Indonesia pada 2017 mencapai 109.000 ton. Meski jumlah itu menurun ketimbang 1980an ketika asbes lebih banyak digunakan oleh masyarakat.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkorakan ledakan penyakit akibat asbes akan terjadi pada 25-30 tahun setelah puncak penggunaan barang itu.
Pakar metalurgi IU Mochamad Chalid mengatakan di Indonesia pengguanan asbes tak hanya untuk atap, melainkan juga kanvas rem, kabel, insulasi pipa sampai seragam pemadam kebakaran.
Pengolahan asbes, kata Chalid, tak butuh keahlian tinggi, sehingga banyak pengusaha melirik bisnis ini. Sayangnya begitu banyak masyarakat Indonesia menggunakan produk ini.
“Setiap produk asbes yang terkena panas, seratnya akan emngecil dan akhirnya terlepas. Ini membahayakan jika tercemar ke udara,” kata Chalid.
Standar Occupational Health and Safety Assesment (OSHA) paparan debu asbes sebesar 0,15 ppm dapat menyebabkan kematian pada empat dari 1.000 orang.
Pakar okupasi Indonesia Anna Suraya menyesalkan minimnya informasi mengenai potensi buruk asbes di Indonesia.
“Setiap penyakit yang terdapat pada paru-paru memiliki gejala yang sama. Sehingga dalam melakukan diagnosis menjadi hal yang sulit. Penyakit akibat asbes ini memiliki gejala yang sangat mirip dengan penyakit Tubercholosis (TBC),” ujar Anna.
Terlebih, ujar perwakilan International Labour Organisation (ILO) Grace Monica Halim Indonesia belum merativikasi konvenan pelarangan asebs sejak 1985.
“Konvensi ini sifatnya mengikat setiap negara tetapi ILO tidak dapat menekan pemerintah Indonesia dalamnya pelarangan asbes karena Indonesia sampai sekarang belum meratifikasi ketiga konvensi tersebut,” ujar dia.
Sepanjang 2007 – 2017 indonesia mengimpor bahan baku asbes berupa krisotil hingga lebih dari 1 juta ton. Padahal terdapat lebih dari 4.400 pekerja industri pengolahan asbes tanpa perlindungan dan lebih dari enam juta rumah tangga Indonesia masih menggunakan atap asbes tanpa menyadari bahayanya.