Astudestra Ajengrastrı
06 Oktober 2018•Update: 07 Oktober 2018
Nilay Kar Onum dan Zuhal Demirci
ISTANBUL
Kepala Badan Bantuan dan Pekerjaan untuk Pengungsi Palestina PBB di Timur Dekat (UNRWA) memuji "solidaritas yang terus meningkat" dari Turki kepada lembaga mereka setelah AS memutuskan memotong dana bantuan.
"Saya sangat menghargai kepemimpinan yang ditunjukkan Turki," kata Komisioner-Jenderal Pierre Krahenbühl kepada Anadolu Agency dalam wawancara eksklusif di sela-sela TRT World Forum di Istanbul.
"Saya merasa ini memberikan pesan kuat, ketika UNRWA sedang berada di bawah tekanan karena kami kehilangan uang dari Amerika Serikat."
Pada Agustus, pemerintah Trump mengumumkan Washington tidak akan lagi memberikan pendanaan kepada program utama PBB membantu pengungsi Palestina.
AS adalah pemberi dana terbesar kepada badan tersebut selama ini, memberikan sekitar USD350 juta per tahun -- sekitar seperempat total dana UNRWA.
Memuji bahwa Turki menunjukkan "solidaritas kuat" untuk warga Palestina, Krahenbühl berkata, "Setiap kali saya ke Turki, ada perasaan kuat, kegelisahan besar soal Palestina dan pengungsi Palestina, yang sangat penting untuk saya."
"Tahun ini, karena situasi yang kita hadapi, ada solidaritas yang bertambah dan kedekatan politik untuk mendukung UNRWA dengan kepemimpinan Turki."
Pendidikan untuk setengah juta anak dalam bahaya
Saat ditanya dampak yang dirasakan UNRWA setelah pemotongan dana dari AS, dia berkata, "Kami memiliki sistem pendidikan, misalnya, untuk 500.000 pengungsi Palestina, anak-anak di Suriah, Lebanon, Yordania, Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan Gaza.
"Kami harus mencari pendanaan. Tidak terbayangkan jika sekolah-sekolah ini harus ditutup. Anak-anak ini tidak akan bisa lagi mendapatkan pendidikan."
Namun kepala UNRWA ini mengucapkan terima kasih karena "mobilisasi kolektif" dari beberapa negara di Teluk, Asia, dan beberapa negara di Eropa.
"Kami memanggil komunitas internasional yang tersisa. Sudah ada reaksi kuat sejauh ini. Negara-negara di Teluk, tapi juga di Asia, Turki dan negara-negara lainnya maju dan mendukung kami."
Pada September, menteri luar negeri Yordania, Swedia, Turki, Jepang dan Jerman, juga kepala kebijakan luar negeri UE, mengadakan pertemuan di New York untuk memobilisasi dukungan finansial dan politik kepada UNRWA.
"Pertemuan tingkat menteri ini mendulang USD122 juta, dengan Kuwait, Uni Eropa, Jerman, Norwegia, Prancis, Belgia, dan Irlandia mengumumkan komitmen untuk menambah pendanaan," menurut pernyataan di laman resmi UNRWA.
Dalam acara di New York itu, Krahenbühl berkata, "Saya sangat tersentuh dengan mobilisasi yang sangat kuat dan kolektif [dalam acara tersebut]."
"Saat ini, saya merasa kami di jalan yang positif," tambah dia.
Dibangun pada 1949, UNRWA menyediakan bantuan kepada pengungsi Palestina di Jalur Gaza yang diblokade, Tepi Barat yang diduduki Israel, Yordania, Lebanon, dan Suriah.