Pizaro Gozali
02 Oktober 2017•Update: 02 Oktober 2017
Pizaro Gozali
JAKARTA
Perwakilan pemuda Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan pimpinan Pondok Pesantren akan terbang ke Jepang dalam program Japan-East Asia Network of Exchange for Students and Youths (JENESYS).
Kegiatan ini, ujar Wakil Duta Besar Jepang Kozo Honsei bertujuan untuk bertukar informasi mengenai Islam Indonesia dan kebudayaan masyarakat Jepang.
“Untuk memperkuat hubungan Jepang dengan masyarakat Indonesia,” kata Kozo, saat melepas keberangkatan rombongan di Kedutaan Besar Jepang, Jakarta, Senin.
Mereka akan sampai di Jepang pada 3 September, lantas mengunjungi pusat industri, kantor pemerintahan, dan institusi agama.
"Peserta juga akan menginap di rumah-rumah warga Jepang," jelasnya.
Para pemuda akan berada di negeri matahari terbit itu hingga 10 Oktober sementara pimpinan pesantren hingga 12 Oktober.
Kozo mengatakan hubungan kerja sama Jepang-Indonesia telah dimulai sejak 1958, meliputi bidang ekonomi hingga budaya dan agama.
Program kunjungan pimpinan pesantren, kata Kozo, telah dimulai sejak 2004. Sementara di bidang ekonomi, saat ini Jepang terlibat proyek pembangunan Mass Rapid Transit (MRT).
"Semoga kehadiran MRT dapat mengurangi kemacetan di Jakarta," kata dia.
Sementara itu delegasi Muhammadiyah Wahid Ridwan menjelaskan organisasinya akan mempelajari toleransi dari Jepang.
"Muhammadiyah punya proyek khusus soal toleransi di Bali, di mana warga muslim menjadi minoritas," jelasnya.
Sementara perwakilan NU Imam Pituduh mengatakan hubungan diplomatik NU dan Jepang sudah berlangsung sebelum kemerdekaan.
"Jepang pernah menunjuk KH Hasyim Asy'ari untuk menjadi Kepala Kementerian Agama," jelas dia.
NU, kata Imam, juga akan mengundang perwakilan Jepang untuk ke Indonesia dan mengenali gagasan Islam Nusantara.