Hayati Nupus
11 Januari 2018•Update: 12 Januari 2018
Hayati Nupus
JAKARTA
Pemerintah Republik Indonesia menyematkan nama Anara kepada satwa anoa (Bubalus depressicornis), Kamis, di Anoa Breeding Centre (ABC) Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan, di Manado, Sulawesi Utara.
Anara merupakan anakan kedua anoa yang lahir di ABC Manado. Sebelumnya, anakan pertama anoa diberi nama Maesa oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla 2017 lalu.
“Kelahiran bayi kedua anoa ini memberikan harapan dalam pelestarian anoa,” ujar Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Siti Nurbaya pada Kamis.
Siti menekankan perlunya upaya lebih kuat dari berbagai pihak untuk mengembalikan kelestarian anoa di alam.
Kepala Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi KLHK Agus Justianto mengatakan saat ini Anara dalam kondisi sehat dan menunjukkan pertumbuhan yang baik.
Putri pasangan Ana dan Rambo yang baru berusia 2 bulan ini lahir secara normal dan tanpa bantuan medis pada Rabu, 8 November 2017 pukul 21.38 WITA lalu. Saat itu Anara lahir dengan bobot 3,5 kg, panjang 60 cm dan tinggi 50 cm.
Selain Anara, Ana dan Rambo, saat ini terdapat enam ekor anoa lainnya di ABC Manado. Mereka adalah Rocky, Rita, Denok, Manis, Stela dan Maesa.
Agus mengatakan Anoa merupakan mamalia terbesar yang menjadi endemik Pulau Sulawesi dan Buton. Saat ini keberadaaannya terancam punah akibat perburuan.
Sifat alami anoa yang soliter, ujar Agus, mengakibatkan pengembangbiakannya membutuhkan waktu lama dengan jumlah populasi terbatas.
Pemerintah, ujar Agus, mengembangbiakkan anoa secara alami sejak 2013. ABC Manado secara resmi beroperasi sejak 5 Februari 2015.
Selain Anara, pada saat yang sama Menteri Siti juga meluncurkan nama ilmiah jenis burung baru di Pulau Rote dengan nama Myzomela irianawidodoae, terinspirasi dari nama ibu negara Iriana Joko Widodo.