Richard McColl
16 Juni 2018•Update: 18 Juni 2018
Richard McColl
BOGOTA, Kolombia
Warga Kolombia akan menuju ke tempat pemungutan suara pada hari Minggu untuk memberikan suara pemilihan presiden pertama sejak kesepakatan damai ditandatangani dengan geriliawan FARC.
Dua kandidat yang bersaing untuk kepresidenan adalah Ivan Duque dari sayap kanan dan diusung oleh partai Centro Democratico dan dari sayap kiri, Gustavo Petro dari Kolombia Humana.
Memimpin jajak pendapat dengan sekitar 20 poin persentase adalah Duque yang dikonsolidasikan secara konservatif, yang merupakan anak didik mantan Presiden Alvaro Uribe. Namun Petro, seorang geriliawan M19 dan mantan wali kota Bogota, telah memobilisasi dukungan selama tiga minggu antara putaran pertama pemungutan suara dan hari Minggu besok.
“Kamu adalah harapan masa depan yang baru! Bersama kami adalah kaum ibu, pekerja, pengusaha, pemuda, petani dan warga negara yang bebas. Di sisi lain adalah korupsi yang akan kita kalahkan pada 17 Juni!” Petro mengatakan kepada kerumunan pengikutnya pada Jumat bersamaan dengan dia menutup kampanye di Bogota.
Perbedaan-perbedaan radikal antara politik kedua kandidat telah membuat pemilihan ini menjadi faktor polarisasi di Kolombia, dan ada banyak perjanjian di atas meja sejak 7 Agustus mendatang, ketika seorang presiden baru dilantik.
Isu-isu seperti ketidakstabilan di negara tetangga Venezuela dan krisis pengungsi yang terjadi saat ini di Kolombia, peningkatan produksi koka, perjanjian damai dengan gerilyawan FARC dan dialog perdamaian dengan gerilyawan ELN - yang saat ini terjadi di Havana, Kuba - semuanya menyeruak menjadi bahan perdebatan siapa pun yang menang Minggu.
Duque telah berjanji untuk "mencabik-cabik" perjanjian damai dengan pemberontak FARC, atau Pasukan Bersenjata Revolusioner Kolombia, yang menandatangani perjanjian damai dengan pemerintah Presiden Juan Manuel Santos pada tahun 2016, yang mengakhiri konflik selama lebih dari 50 tahun. Tapi sejak itu dia melunakkan nadanya.
"Perubahan-perubahan yang kami pikirkan untuk perjanjian perdamaian telah dibuat dengan memikirkan para korban, bahwa harus ada kebenaran, keadilan, dan reparasi," kata Duque Jumat lewat akun Twitter-nya.
Duque menerima suara terbanyak dalam putaran pertama pemilihan pada 27 Mei dan telah menyatakan bahwa ELN, atau Tentara Pembebasan Nasional, akan perlu mematuhi kondisi lebih lanjut untuk melanjutkan pembicaraan dengan pemerintahnya. Sebaliknya, Petro mengatakan bahwa pemerintahannya akan menghormati kondisi saat ini demi dialog perdamaian.