Pizaro Gozali İdrus
28 September 2018•Update: 29 September 2018
Pizaro Gozali
JAKARTA
Pengamat masalah terorisme Al Chaidar meminta Indonesia tak responsif menuruti permintaan penculik nelayan Indonesia di Sabah beberapa waktu lalu.
“Mereka suka menculik karena pemerintah Indonesia suka panik dan mengurus uang tebusan,” kata Al Chaidar kepada Anadolu Agency pada Jumat.
Al Chaidar mengatakan biasanya para penculik yang berasal dari Filipina Selatan enggan berlaku kekerasan kepada nelayan Indonesia.
Sebab nelayan Indonesia dinilai beragama Muslim dan taat beribadah.
“Nelayan Indonesia itu baik dan rajin salat,” kata Al Chaidar.
Namun demikian, pemerintah tetap harus hati-hati dalam menangani kasus penculikan. Sebab dalam beberapa kasus, sandera mengalami Stockholm Syndrome.
“Mereka tiba-tiba ikut angkat senjata bersama para penculik,” ungkap Al Chaidar yang terakhir mengunjungi Filipina Selatan pada Desember tahun lalu.
Al Chaidar juga mengatakan terjadinya kembali penculikan di perairan Sabah menunjukkan belum efektifnya Joint Patrol Trilateral antara Indonesia, Filipina, dan Malaysia.
Menurut Al Chaidar, pemerintah bisa mengevaluasi kerja sama tersebut, mengingat ongkos Joint Patrol juga mahal.
Al Chaidar mengusulkan agar Indonesia memakai teknologi Satelite Surveillance untuk mengawasi perairan Sabah dan Sulu.
Jika ada gerakan mencurigakan, Indonesia bisa langsung bergerak berdasarkan pantauan satelit.
“Itu jauh lebih efektif,” kata dia.
Sebelumnya kedua WNI kembali diculik pada 11 September lalu di Perairan Sabah, Malaysia. Pelaku penculikan diduga kuat kelompok pecahan Abu Sayyaf asal Filipina. Mereka menuntut uang tebusan sebesar Rp14 miliar.
Saat ini para penculik menahan dua nelayan Indonesia bernama Samsul Saguni, 40 tahun, kelahiran Kabupaten Poliwali Mandar, Sulawesi Barat dan Usman Yunus, 35 tahun, kelahiran Poniang, Sulawesi Barat.
Penculikan terjadi ketika kedua nelayan itu sedang bekerja di kapal Dwi Jaya I, sebuah kapal penangkap ikan berbendera Malaysia.
Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal mengharapkan Kepolisian Sabah melakukan langkah-langkah pembebasan kedua WNI
"Semoga Kepolisian Sabah tidak hanya bisa meneruskan informasi permintaan tebusan dari penyandera, tapi juga membebaskan 2 WNI yang disandera dan diculik dari wilayah Sabah," ujar Iqbal kepada Anadolu Agency saat dikonfirmasi pada Rabu.