Roy Ramos
19 Oktober 2017•Update: 20 Oktober 2017
Roy Ramos
ZAMBOANGA CITY
Pemerintah Filipina mengumumkan telah menghabiskan PHP 5miliar atau sekitar Rp1,3 triliun untuk membebaskan kota Marawi dari teror jaringan Daesh-Abu Sayyaf dan kelompok Maute.
Dalam sebuah konferensi pers, Pemimpin Pertahanan Filipina Delfin Lorenzana mengatakan logistik amunisi, bahan bakar, makanan dan uang saku para tentara masih terus dipasok ke basis operasi militer yang kini menargetkan menangkap sekitar 20 orang militan, yang tersebar di area persembunyian seluas dua hektar.
“Departemen Anggaran dan Manajemen telah mengalokasikan dana untuk membantu pengungsi, pembangunan rumah dan perbaikan jembatan hingga akhir tahun,” kata Lorenzana seperti dikutio Inquirer News, Kamis.
Dia juga mengungkapkan, pada 2018 setidaknya dibutuhkan anggaran PHP 10 miliar oleh pemerintah Filipina untuk membangun kembali kota yang kini sedang dikepung aparat.
Salah satu arsitek ternama Filipina, Felino Palafox Jr, yang dikenal memiliki pengalaman merehabilitasi kawasan permukiman pasca gempa bumi, tsunami dan bencana lainnnya, telah berjanji untuk ikut membangung kembali Marawi.
“Kami masih yakin bahwa sebuah ground-zero akan menjadi pelajaran di masa depan,” ujar Palafox, yang mengaku proposalnya telah disetujui pemerintah lokal.
Sementara Wali Kota Marawi Majul Usman Gandamra mengestimasikan tahap rehabilitasi bakal memakan waktu hingga tiga tahun, Palafox meyakini bahwa membutuhkan waktu 70 tahun untuk bisa mengembalikan kota seperti sebelum terjadi serangan 23 Mei.
“Rehabilitasi, mungkin, dilakukan di tempat ibadah, pendidikan, dan bangunan-bangunan penting. Bangunan yang sudah hancur bisa dipertahankan, terutama yang dipenuhi bekas peluru, yang bisa menjadi pengingat bagaimana teroris dapat merusak kota yang damai,” kata Palafox.
Di tempat lain, tentara Filipina meyakini bahwa tidak ada teroris yang bisa kabur dengan selamat mengingat tentara sudah meminta mereka untuk menyerah.
“Kami memanggil mereka untuk menyerah. Satu-satunya cara untuk keluar dalam keadaan masih hidup hanyalah menyerah,” kata Kepala Militer Filipina Eduardo Ano dalam sebuah wawancara di stasiun radio lokal.
Presiden Rodrigo Duterte sebelumnya telah mengumumkan bahwa Marawi telah terbebas dari teroris, setelah dua pemimpin kelompok yakni Isnilon Hapilon dan Omar Maute dinyatakan tewas.
Bersamaan dengan gencatan senjata melawan kelompok teror yang terkoneksi dengan Daesh di beberapa area sebelah selatan Filipina, Mindanao, panggilan kepada para tentara untuk menguatkan pemerintah telah dilakukan.
Tercatat sejak Januari tahun ini, sebanyak 123 anggota Abu Sayyaf telah menyerahkan diri kepada aparat. Terbaru, tiga orang yang menyerahkan diri diidentifikasikan sebagai kerabat Hapilon.
Dalam keterangan yang disiarkan oleh Kantor Berita Filipina, Letnan Kolonel Jonas Templo menyebut, ketiga kerabat Hapilon itu menyerahkan diri mereka ke tentara di kota Al-Barka, Basilan.
Hapilon, yang diduga sebagai pemangku kekuasaan jaringan teror Daesh di kawasan Asia Tenggara diketahui sebagai pemimpin Abu Sayyaf yang berasal dari Basilan, provinsi yang dikenal sebagai sarang kelompok teror.