Shenny Fierdha Chumaira
04 Juni 2018•Update: 04 Juni 2018
Shenny Fierdha
JAKARTA
Polisi akan menelusuri aliran dana yang diduga diberikan oleh tersangka penyerangan Markas Kepolisian Daerah Riau kepada tersangka teroris yang ditangkap di Universitas Riau yang bernama M. Nur Zamzam.
Seorang tersangka teroris yang tewas dalam penyerangan Markas Kepolisian Daerah Riau pada Mei - dikenal dengan panggilan Pak Ngah - diduga pernah memesan bom kepada Zamzam untuk melancarkan penyerangan namun Zamzam tidak memenuhi permintaan itu karena belum sempat.
Pak Ngah merupakan salah satu dari empat tersangka teroris yang ditembak mati ketika menyerang Markas Kepolisian Daerah Riau dengan menggunakan samurai.
"Pasti kita telusuri. Subtim akan melakukan penyelidikan termasuk scientific identification di bidang anggaran," ungkap Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Hubungan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal M. Iqbal di Jakarta, Senin.
Dia pun membenarkan bahwa memang ada hubungan antara Pak Ngah dengan Zamzam.
"Ada koneksi memang dari bukti yang kita miliki, baik digital dan lain-lain," ucap Iqbal.
Pada Sabtu pekan lalu, tim Detasemen Khusus 88 Antiteror menangkap Zamzam serta dua orang rekannya, Rio Bima Wijaya dan Saputra, di Gedung Gelanggang Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Riau.
Ketiganya merupakan alumni kampus tersebut dan diduga tergabung dalam kelompok teroris Jamaah Ansharut Daulah.
Dari penangkapan itu, aparat mengamankan barang bukti berupa empat buah bom berdaya ledak tinggi, sejumlah bahan peledak, busur, anak panah, buku, dan video tentang kelompok teroris Daesh.
Mereka berencana meledakkan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia serta gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Riau.
Meski Zamzam sudah ditetapkan sebagai tersangka, namun kedua rekannya masih berstatus saksi dan ada kemungkinan dinaikkan statusnya menjadi tersangka pula.