Hayati Nupus
12 November 2018•Update: 13 November 2018
Hayati Nupus
JAKARTA
RS Bhayangkara Polri mengatakan pihaknya tengah melayani terapi oksigen hiperbarik kepada 38 orang penyelam dari tim SAR gabungan pencari penumpang Lion Air JT-610 PK-LQP.
Kepala Bidang Disaster Victim Identification (DVI) Pusdokkes Polri Lisda Cancer mengatakan 32 orang di antaranya berasal dari Direktorat Polisi Air dan Udara dan enam penyelam lainnya merupakan relawan.
“Kami masih menangani hiperbarik bagi penyelam [tim SAR gabungan],” ujar Lisda, Senin, di RS Bhayangkara Polri, Jakarta.
Lisda mengatakan layanan hiperbarik pada penyelam dari tim SAR gabungan pencari penumpang Lion Air JT-610 PK-LQP telah dilakukan sejak 29 Oktober 2018 lalu.
Terapi tersebut, menurut Lisda, harus diberikan kepada penyelam untuk mengantisipasi penyakit dekompresi akibat aktivitas penyelaman.
Terapi hiperbarik, kata Lisda, merupakan prosedur standar sebelum dan sesudah penyelam terjun ke dasar laut.
Meski operasi pencarian tersebut sudah berakhir Sabtu lalu, ujar Lisda, layanan itu tetap diberikan.
“Sampai kapan, tergantung permintaan rekan-rekan,” menurut Lisda.
Wakil Kepala Operasi Tim DVI Polri Kombes Triawan Marsudi menambahkan, selain hiperbarik, pihaknya juga akan mengobati jika para penyelam itu terjangkit penyakit lain.
Pesawat Lion Air JT 610 PK-LQP berjenis Boeing 737 MAX 8 kecelakaan pada Senin di Laut Jawa, tepatnya di Perairan Karawang, Jawa Barat.
Ini merupakan pesawat baru Lion Air B 737-800 Max yang beroperasi sejak Agustus lalu dengan lama penerbangan 800 jam.
Pesawat berisikan 189 orang, sebanyak Sebanyak 181 orang di antaranya merupakan penumpang dan delapan lainnya awak pesawat.
Dari Jakarta, pesawat berangkat menuju Pangkal Pinang pukul 06.10 WIB dan hilang kontak setelah 13 menit mengudara.
Tim SAR gabungan yang dipimpin oleh Badan SAR Nasional mengerahkan 800an personil untuk mengevakuasi seluruh penumpang, puluhan di antaranya merupakan penyelam.