Pizaro Gozali İdrus
29 Januari 2018•Update: 30 Januari 2018
Pizaro Idrus
JAKARTA
Survei Wahid Foundation menunjukkan perempuan Indonesia berpotensi menjadi agen perdamaian.
Survei dilakukan untuk memaparkan potensi tolerasnsi sosial keagamaan di Indonesia.
“Sebanyak 87 persen perempuan mendukung hak kebebasan menjalankan ajaran agama dan keyakinan,” ujar Direktur Eksekutif Wahid Foundation Yenny Wahid di Jakarta, Senin.
Survei dilakukan pada 6-27 Oktober 2017 di 34 provinsi di Indonesia dengan jumlah 1500 responden, yang terdiri dari 50 persen perempuan dan 50 persen laki-laki.
Survei yang menggandeng Lingkaran Survei Indonesia (LSI) ini dilakukan dengan teknik multi-stage random sampling dengan margin of error +- 2.6 persen.
Survei nasional ini juga melihat bagaimana keseteraan gender dipersepsikan oleh perempuan muslim di Indonesia.
Berdasarkan hasil survei, 14.9 persen perempuan mendukung pandangan dan sikap progresif soal gender dan 8.6 perempuan mendukung sikap yang pro keadilan gender.
Hasil survei menyebutkn sebanyak 80.8 persen perempuan tidak bersedia radikal. Sedangkan laki-laki yang tidak bersedia radikal mencapai 76.7 persen.
Menurut Yenny, orang yang memiliki berpendapat berbeda bukan berarti radikal. Maka orang berhak melampiaskan gagasannya tentang isu agama selama tidak dilampiaskan dengan kekerasan.
“Jika dia melakukan kekerasan, maka itu radikal,“ jelas Yenny.
“Hasil survei juga menunjukkan tingkat otonomi perempuan (53.3 persen) untuk mengambil keputusan dalam hidupnya lebih rendah dibanding laki-laki (80.2 persen),” kata Yenny.
Komunis dan LGBT tak disukai
Berdasarkan survei, komunis berada di urutan pertama yang paling tidak disukai oleh responden yakni sebesar 21.9 persen. Sedangkan LGBT berada di peringkat kedua sebesar 17.8 persen.
Pada survei 2016, kata Yenny, komunis berada di peringkat kedua sebesar 16.7 persen di bawah kelompok LGBT yang mencapai 26.1 persen.
“Jadi ketidaksukaan perempuan terhadap komunis sekarang naik. Hal ini terjadi seiring dengan situasi politik di Indonesia,” kata Yenny.