Fatih Erel
ISTANBUL
Komite Eksekutif UEFA akan menentukan pilihan antara Turki atau Jerman yang akan menjadi tuan rumah Kejuaraan Sepak Bola Eropa UEFA 2024 (EURO 2024).
Komite akan bertemu di Nyon, Swiss, pada 27 September untuk memilih tuan rumah EURO 2024 dari dua kandidat, yaitu Turki dan Jerman.
UEFA mungkin saja memilih untuk perubahan dan menunjuk Turki sebagai tuan rumah turnamen, menurut anggota Komite Eksekutif UEFA, Servet Yardimci.
Pada April, Federasi Sepak Bola Turki (TFF) dan Asosiasi Sepakbola Jerman (DFB) mengajukan proposal resmi mereka untuk menjadi tuan rumah acara tersebut.
Turki berharap bisa menjadi tuan rumah Kejuaraan Sepak Bola Eropa UEFA 2024 untuk pertama kalinya setelah mengajukan diri empat kali berturut-turut.
"Kami berharap UEFA akan memilih untuk mengubah turnamen dengan pergi ke negara baru seperti Turki, sehingga kami dapat menunjukkan kepada dunia bagaimana suksesnya Turki dalam menggelar turnamen ini," kata Yardimci kepada Anadolu Agency pada Kamis.
"Sekarang harus menjadi waktu bagi Turki untuk memiliki hak istimewa menjadi tuan rumah turnamen besar ini, daripada pergi ke negara-negara Eropa tradisional," katanya.
Motto EURO 2024 Turki adalah "berbagi bersama" yang bertujuan untuk membawa orang lebih dekat dengan semangat mereka untuk sepak bola, kata federasi sepakbola negara itu.
Penggemar sepak bola Jerman protes pengajuan negaranya
Selama pertandingan pekan lalu, penggemar sepak bola Jerman memprotes nominasi negara tersebut untuk menjadi tuan rumah EURO 2024 dengan memegang spanduk dan bernyanyi.
Pada pertandingan Sabtu antara Augsburg dan Werder Bremen, penggemar melantunkan lagu untuk melawan nominasi Jerman sebagai tuan rumah EURO 2024.
Penggemar Dynamo Dresden, tim liga kedua Bundesliga, membentangkan spanduk selama pertandingan dengan Darmstadt yang mengatakan: “Kami tidak perlu turnamen yang dibeli dengan euro. Kami butuh perubahan. ”
Pada Jumat, para penggemar Stuttgart juga memamerkan spanduk yang bertuliskan: "Disatukan oleh Uang: Korupsi di pusat Eropa," mengejek slogan proposal EURO 2024 Jerman, "Disatukan oleh Sepak Bola: Bersama-sama di pusat Eropa".
Rasisme dan penyuapan
Pada Jumat, UEFA mengeluarkan evaluasi pengajuan Euro 2024 Turki dan Jerman.
Laporan itu mencakup stadion kandidat, aspek politik, sosial, dan lingkungan, serta isu-isu yang berkaitan dengan layanan keamanan, mobilitas, akomodasi, dan fasilitas pelatihan.
Setelah laporan itu diterbitkan, Presiden Federasi Sepakbola Turki Yildirim Demiroren mengatakan, "Kami siap untuk menyelenggarakan turnamen spektakuler berkat investasi yang dilakukan oleh negara kami untuk sepakbola dalam beberapa tahun terakhir."
Dalam beberapa tahun terakhir, DFB -- yang bersaing melawan TFF untuk menjadi tuan rumah EURO 2024 -- telah diguncang oleh dugaan kecurangan dan rasisme.
Pada 2015, tabloid Jerman Der Spiegel mengklaim bahwa Jerman membayar EUR6,7 juta (sekitar USD7,8 juta) untuk mengamankan posisinya sebagai tuan rumah Piala Dunia 2006. Wolfgang Niersbach, yang saat itu merupakan kepala DFB, dipaksa mengundurkan diri atas tuduhan penyuapan, dan FIFA melarang dia bekerja di bidang persepakbolaan selama satu tahun.
Reinhard Grindel, kepala DFB saat ini, juga telah ternoda oleh tuduhan rasisme.
Pada Juli, pesepakbola Jerman berdarah Turki Mesut Ozil keluar dari tim nasional, dengan alasan diskriminasi rasial.
Ozil mengatakan bahwa Grindel gagal mendukungnya ketika dia menerima surat-surat kebencian, panggilan telepon mengancam, dan komentar rasis di media sosial. Kepala DFB itu kemudian mengakui bahwa dia belum cukup mendukung.
Menurut laporan evaluasi UEFA, empat dari sepuluh kandidat kota tuan rumah di Jerman bukan anggota Koalisi Kota Eropa melawan Rasisme.
news_share_descriptionsubscription_contact

