Hayati Nupus
12 Januari 2018•Update: 13 Januari 2018
Hayati Nupus
JAKARTA
Bio Farma menggenjot produksi vaksin dari 15 juta pada 2017 menjadi 19,5 juta tahun ini.
Peningkatan jumlah produksi ini, ujar Direktur Utama PT Bio Farma Juliman, terkait status Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri di Indonesia.
Bahkan, ujar Juliman, demi memenuhi kebutuhan vaksin antidifteri di dalam negeri, sementara ini Bio Farma menghentikan produksi vaksin lain dan berfokus hanya pada vaksin difteri.
Karena wabah difteri pula, Bio Farma juga menunda mengirim vaksin ke luar negeri.
“Kami tetap memprioritaskan kebutuhan dalam negeri, untuk kebutuhan pemerintah maupun imunisasi mandiri,” kata Juliman. Permintaan terbanyak, kata Juliman, berasal dari pemerintah yang menyuplai vaksin tersebut ke Pusat Kesehatan Masyarakat di seluruh Indonesia.
Berdasarkan catatan Kementerian Kesehatan, terdapat 959 kasus difteri di Indonesia pada 2017, dengan korban meninggal tercatat sebanyak 38 orang.
Berdiri sejak 126 tahun lalu, Bio Farma merupakan satu-satunya produsen vaksin di Indonesia dan masuk dalam empat besar perusahaan produsen vaksin dunia.
Bahkan, dari 136 negara tujuan ekspor vaksin produksi Bio Farma, 56 di antaranya merupakan negara Islam.
Juliman menyampaikan pernyataan ini terkait masih banyaknya kelompok di Indonesia yang menolak penggunaan vaksin karena dianggap tidak halal.
“Kalau mereka menganggap itu tidak baik, tidak boleh digunakan, untuk apa mereka memesannya pada kami?” ujar Juliman.
Bio Farma mengekspor vaksin tersebut berdasarkan hasil kerja sama dengan UNICEF dan kerja sama bilateral Indonesia dengan berbagai negara.
“Kami menerapkan kualitas tinggi, produk kami sudah mendapat pengakuan World Health Organization,” ujar Juliman.