Nicky Aulia Widadio
03 Maret 2020•Update: 03 Maret 2020
JAKARTA
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) meminta media-media di Indonesia menerapkan pendekatan jurnalisme damai dalam memberitakan konflik di India.
Ketua Umum AJI Abdul Manan mengatakan sejumlah media di Indonesia menulis berita tersebut dengan sudut pandang konflik antara dua kelompok.
Beberapa di antaranya menggunakan sudut pandang pembantaian dengan judul yang memuat kata atau kalimat seperti "... Bantai Umat Muslim di India", "Kaum muslim dibantai", "Masjid dibakar", dan lain-lain.
Manan menuturkan pendekatan jurnalisme damai tidak berpretensi mengaburkan fakta, melainkan menekankan pada dorongan menyelesaikan persoalan dengan menyorot sisi penderitaan korban akibat konflik ini atau mengungkap akar masalah pemicunya.
“Dengan pendekatan ini diharapkan bahwa ada dorongan lebih kuat bagi publik untuk ikut meredakan keadaan, meminta institusi negara segera mencari penyelesaian, serta tidak memicu konflik atau masalah baru,” kata Manan melalui siaran pers, Senin.
AJI juga meminta jurnalis lebih kritis terhadap fakta dan menghindari sikap eksploitasi dari peristiwa ini, misalnya melalui pemilihan kata.
“Dalam memberitakan peristiwa seperti kasus di India, perlu dipastikan apakah "pembantaian" merupakan kata yang tepat untuk menjelaskan peristiwa tersebut, atau sebuah bentrokan, atau kerusuhan,” jelas Manan.
Pemilihan kata, lanjut dia, semestinya berdasarkan pada informasi yang paling mendekati kebenaran dan menghindari sikap eksploitasi terhadap fakta, apalagi sampai ada tendensi memanfaatkan sentimen sektarian.
Selama satu bulan terakhir, ribuan orang India memprotes undang-undang yang memudahkan orang-orang non-Muslim dari negara-negara regional untuk mendapatkan kewarganegaraan India, tetapi mengecualikan Muslim dari manfaat-manfaat itu.
Bentrokan antara kelompok demonstran yang pro dan anti-kewarganegaraan dimulai sejak pekan lalu di New Delhi. Bentrokan itu telah merenggut puluhan nyawa.