Nicky Aulia Widadio
12 Oktober 2020•Update: 13 Oktober 2020
JAKARTA
Pemerintah Indonesia menargetkan vaksinasi Covid-19 akan dimulai pada November 2020 setelah mendapatkan komitmen jutaan dosis vaksin dari tiga perusahaan China.
Komitmen itu dipastikan setelah Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan bertemu dengan pimpinan perusahaan produsen vaksin Covid-19 yakni Cansino, Sinopharm, dan Sinovac di Yunan, China pada akhir pekan lalu.
Luhut juga didampingi oleh Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir, oleh Duta Besar RI Djauhari Oratmangun.
Melalui siaran pers yang diterbitkan Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, ketiga perusahaan telah menyanggupi suplai vaksin dalam jumlah yang beragam.
Cansino menyanggupi 100 ribu single dose vaksin pada November 2020 dan 15-20 juta vaksin pada 2021.
Sinopharm menyanggupi 15 juta dosis (dual dose) vaksin G42 pada tahun ini, dimana 5 juta dosis di antaranya akan mulai datang pada November. Perusahaan ini juga akan mengusahakan 50 juta vaksin (dual dose) pada 2021.
Sementara itu, Sinovac menyanggupi 3 juta dosis vaksin hingga akhir Desember 2020, dimana 1,5 juta di antaranya akan dikirim pada pekan pertama November dan 1,5 juta dosis lainnya akan dikirim pada pekan pertama Desember 2020 bersama 15 juta dosis vaksin dalam bentuk bulk (konsentrat).
Sinovac juga akan mengusahakan 125 juta dual doses vaksin untuk Indonesia pada 2021.
Kandidat vaksin dari tiga jenis perusahaan tersebut telah memasuki uji klinis tahap ketiga.
Cansino melakukan uji klinis tahap ketiga di China, Arab Saudi, Rusia dan Pakistan. G42/Sinopharm melakukan uji klinis tahap ketiga di China, Uni Emirat Arab (UEA), Peru, Moroko dan Argentina.
Sedangkan Sinovac melakukan uji klinis tahap ketiga di Tiongkok, Indonesia, Brazil, Turki, Banglades, dan Chile.
Ketiga kandidat vaksin ini telah mendapatkan Otorisasi Penggunaan Darurat (Emergency Use Authorization/EUA) di China sejak Juli 2020.
Pemerintah UEA juga telah menerbitkan Otorisasi Penggunaan Darurat untuk vaksin G42/Sinopharm.
Selanjutnya, tim inspeksi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Kementerian Kesehatan, Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan Bio Farma akan berkunjung ke China pada 14 Oktober 2020 untuk melihat kualitas fasilitas produksi dan kehalalan vaksin produksi Sinovac dan Cansino.
Sedangkan untuk vaksin G42/Sinopharm, tim akan mengambil data dari uji klinis di Uni Emirat Arab
“MUI-nya Abu Dhabi sudah menyatakan no issue dengan kehalalan vaksin G42” kata Direktur Utama PT Bio Farma, Honesti Basyir melalui siaran pers, Senin.
Tenaga medis jadi prioritas
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengatakan para tenaga kesehatan dan aparat keamanan yang berkaitan langsung dengan penanganan Covid-19 akan menjad prioritas dalam program vaksinasi.
“Mereka yang di garda terdepan dan peserta Penerima Bantuan Iuran alias PBI dalam BPJS Kesehatan akan ditanggung biaya vaksinnya oleh pemerintah,” kata Terawan.
Kementerian Kesehatan saat ini masih menyiapkan detail rencana program vaksinasi dan akan segera melaksanakan simulasi di beberapa puskesmas.
Menurut Terawan, sejumlah tenaga kesehatan telah mulai dilatih mengenai tata cara vaksinasi Covid-19 sejak akhir September 2020.
Pengadaan vaksin yang dibayarkan oleh pemerintah maupun mandiri tetap melalui Bi Farma selaku BUMN yang ditunjuk.
Bio Farma, lanjut dia, akan segera memaparkan biaya pembelian vaksin.
Dalam pertemuan di China, Indonesia juga telah mengajak ketiga produsen tersebut untuk kerja sama transfer teknologi dengan Bio Farma, juga kerja sama riset dan uji klinis dengan lembaga penelitian medis yang ada di Indonesia.