Errıc Permana
23 Januari 2020•Update: 24 Januari 2020
JAKARTA
Presiden Joko Widodo mengatakan Indonesia harus memperkuat diplomasi dan teknologi pertahanan terutama dengan banyaknya tantangan yang akan dihadapi.
Hal ini dinyatakan Presiden Joko Widodo saat memberikan arahan dalam Rapat Pimpinan Kemhan Tahun Anggaran 2020.
Menurut Jokowi -- sapaan akrab Joko Widodo -- tantangan yang dihadapi akan semakin berat lantaran meluasnya spektrum konflik di berbagai belahan dunia.
"Mulai dari konflik internal, perang asimetris, gerilya, perang proxy maupun perang hybrid, yang menggabungkan strategi militer non militer, konvensional dan non konvensional," kata Jokowi.
Indonesia harus memperkuat diplomasi pertahanan untuk meredam ketegangan antar negara.
"Dan siap dengan kekuatan senjata untuk melakukan penegakkan hukum di wilayah kita," jelas dia.
Tantangan lain yang akan dihadapi kata dia yakni perkembangan teknologi yang luar biasa.
Dia meminta agar bawahannya bisa terus mengikuti dan mengantisipasi kemajuan teknologi militer dalam jangka waktu hingga 50 tahun ke depan.
"Termasuk pengembangan pesawat tanpa awak, kapal tanpa awak yang dilengkapi persenjataan modern. Hati-hati dengan ini," kata dia.
TNI harus memperkuat penguasaan teknologi pertahanan Indonesia, di antaranya teknologi otomatisasi yang disertai pengembangan sistem senjata otonom.
Selain itu teknologi sensor yang mengarah kepada penginderaan jarak jauh juga harus dikuasai.
"Teknologi IT seperti 5G yang akan mengarah ke penggunaan sistem persenjataan yang otonom serta pertahanan hybrid. semuanya akan ke sana. semuanya itu membutuhkan kebijakan pengembangan alutsista yang tepat," kata Jokowi.