Hayati Nupus
JAKARTA
Longsor itu seperti langit yang runtuh. Wasis Sucipto, 50 tahun, melihatnya saat bukit di Desa Sijeruk, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah, bergerak dan menimbun apa saja yang ada di sekitarnya.
“Dampaknya begitu banyak, baik korban jiwa dan harta benda,” ujar Wasis kepada Anadolu Agency lewat telepon, Senin.
Wasis menyaksikan longsor Januari 2006 di Desa Sijeruk itu tak hanya menimbun deretan rumah, namun juga merenggut nyawa. Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) mencatat ada 90 nyawa yang melayang tertelan longsor.
Bencana serupa terus berulang di kampung halamannya. Desember 2014, longsor lebih besar terjadi di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Banjarnegara. Pergeseran tanah menimbun puluhan rumah sekaligus menelan nyawa 108 orang.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan Indonesia merupakan wilayah yang rawan terjadi bencana hidrometeorologi seperti longsor, banjir, dan puting beliung.
Salah satu wilayah yang rawan tanah longsor itu adalah Banjarnegara. Saat musim penghujan datang, tanah gembur dengan pepohonan kian menipis di wilayah perbukitan itu bergerak dan menimbun benda-benda yang ada di dataran rendah.
Mitigasi bencana di sekolah
Sebagai guru fisika di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Bawang, Banjarnegara, yang bisa Wasis Sucipto lakukan adalah mendidik siswanya untuk mengantisipasi terjadinya bencana itu.
Lewat aktivitas akademis, Wasis mengajarkan siswanya untuk menciptakan sekaligus mensimulasikan alat pendeteksi longsor yang dia beri nama Early Warning System (EWS).
Saat kegiatan itu pertama kali digelar pada 2013, EWS masih berbentuk sederhana. Berupa alat yang dapat mendeteksi gerakan tanah dan menyampaikan hasilnya lewat sirine. Jika tanah bergerak selebar 5 atau 10 centimeter, sirine akan berbunyi.
“Besaran skala itu dapat diatur sesuai kebutuhan,” kata Wasis.
Sirine EWS, lanjut Wasis, juga akan berbunyi jika ada tanah runtuh.
Pada 2015, sistem EWS kian sempurna dengan penggunaan transmisi gelombang radio FM. Lewat gelombang itu, EWS mengirimkan sinyal pada rangkaian elektronik seperti ponsel atau radio, dan sirine itu dapat berbunyi di lokasi manapun.
Bersama siswa, Wasis mensimulasikan penggunaan EWS dengan gelombang 87.5 FM dan sirine dapat berbunyi hingga sejauh 1 kilometer dari lokasi ponsel atau radio.
“Kami menggunakan titik frekuensi yang kosong,” kata Wasis.
Jika alat itu akan digunakan di wilayah lain, ujar Wasis, EWS dapat menggunakan titik frekuensi lainnya.
Wasis menambahkan bahwa akan lebih aman jika penggunaan frekuensi untuk EWS itu memiliki izin.
“Sementara ini kita lebih menekankan pada praktik bermanfaat bersama siswa dan masyarakat dengan teknologi FM itu,” kata Wasis.
Lewat praktik mata pelajaran Fisika itu, Wasis sekaligus ingin mengetuk pintu hati siswa agar lebih peduli pada apa yang terjadi di lingkungannya. Tak hanya soal tanah longsor, tapi juga bencana lainnya. Bersama siswa-siswanya, Wasis juga menciptakan alat pendeteksi bencana alam lain seperti banjir, kebakaran dan gempa bumi.
Diproduksi massal
Saat ini, ujar Wasis, satu unit EWS terpasang di Desa Suwidak, Wanayasa, Banjarnegara.
Wasis sebetulnya berharap alat itu dapat digunakan lebih luas, mengingat tanah longsor juga terjadi di berbagai wilayah lainnya di Indonesia sepanjang tahun.
Saat mempresentasikan karyanya dalam sebuah forum di BPBD Jawa Tengah, Wasis kebanjiran apresiasi.
Tak disangka, ada seorang pegiat industri yang bergerak soal penanggulangan bencana dan berbasis di Yogyakarta yang tertarik.
“Mereka mempelajari karya saya dan memodifikasikannya untuk diproduksi massal,” kata Wasis.
BNPB mencatat tren bencana di Indonesia meningkat selama satu dekade terakhir. Sebanyak 96,9 persen bencana yang terjadi pada 2018 merupakan bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor dan puting beliung. Dari 2.426 bencana pada 2018, sebanyak 440 di antaranya merupakan tanah longsor.
Sepanjang tahun itu, longsor mengakibatkan 130 orang tewas, 116 orang terluka, dan 38.002 orang mengungsi. Longsor tahun itu juga mengakibatkan 537 rumah rusak berat, 489 rusak sedang dan 906 rusak ringan.
BNPB memprediksi bencana hidrometeorologi tetap akan mendominasi pada tahun ini.
“Kami memperkirakan jumlahnya akan lebih dari 2500 kejadian,” ujar Sutopo.
Bulan ini, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi curah hujan terus meningkat. Deputi Bidang Meteorologi BMLG Mulyono Prabowo mengatakan ada aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) di Samudra Hindia yang meningkatkan potensi curah hujan tinggi di kawasan Indonesia.
“MJO merambat dari barat Samudera Hindia ke timur dan dapat meningkatkan potensi curah hujan di daerah yang dilaluinya,” ujar Mulyono.
MJO itu, kata Mulyono, menyebabkan masuknya aliran massa basah dari Samudera Hindia ke Indonesia.
Wilayah basah terutama terjadi di sebelah barat dan tengah Indonesia seperti Sumatra, Kalimantan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara hingga Sulawesi.
BMKG memperkirakan MJO akan melintasi Indonesia hingga sepekan ke depan.
news_share_descriptionsubscription_contact
