Erric Permana
15 Juni 2020•Update: 17 Juni 2020
JAKARTA
Dewan Perwakilan Rakyat meminta Kementerian Pertahanan mengaudit alat utama sistem persenjataan (alutsista) menyusul jatuhnya pesawat tempur BAE Hawk 209 di Pekanbaru, Riau, Senin.
Anggota Komisi I DPR Willy Aditya mengatakan audit merupakan bagian dari penguatan sistem pertahanan nasional.
"Kecelakaan pertama percobaan Hawk 200 tahun 1986 terjadi karena black out dan disorientasi. Memang sudah banyak pengembangannya hingga 2002,” jelas Willy melalui keterangan resminya pada Senin.
Politisi Partai NasDem ini menambahkan Kementerian Pertahanan perlu mengkaji kembali setiap senjata yang digunakan Indonesia.
“Audit sistem pertahanan ini mendesak dilakukan karena tentu perkembangan ancaman pertahanan terus berubah. Kejadian berturut-turut ini harus mendapat perhatian serius,” kata dia.
Willy menjelaskan audit bisa menjadi dasar bagi DPR untuk menyetujui penambahan anggaran alutsista.
“Saya rasa DPR akan menyetujui penambahan anggaran alutsista jika ada audit komprehensif termasuk investigasi sejumlah kecelakaan alutsista," ujar dia.
"Jadi anggaran yang dikeluarkan itu akan punya dasar yang kuat.”
Dia mengimbau Kementerian Pertahanan tidak mengoperasikan terlebih dahulu pesawat tempur Hawk 209 dan helikopter MI-17 hingga investigasi selesai.
“Kita masih memiliki banyak Hawk 200 dan MI-17 yang masih operasional," kata dia.
Willy menegaskan DPR akan mendukung Kementerian Pertahanan dan TNI apabila ditemukan adanya kegagalan fungsi yang berasal dari perusahaan pembuat pesawat tersebut.
“Kita punya perjanjian dengan negara pabrikan pesawat dan heli yang digunakan TNI, maka kalau ditemukan masalah dari sisi pabrikan, kita bisa mendesak pemerintah untuk meminta tanggung jawab pabrikan," pungkas dia.
Sebelumnya, pesawat milik TNI Angkatan Udara jenis BAE Hawk 209 dengan nomor registrasi TT-0209 jatuh di pemukiman warga Pekanbaru, Riau.
Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama (Marsma) TNI Fajar Adriyanto mengatakan lokasi kejadian jatuhnya pesawat itu di 5 km dari runway Landasan Udara Roesmin Nurjadin di Pekanbaru, Riau.
Dia mengatakan pilot pesawat tersebut yakni Lettu Pnb Apriyanto Ismail berhasil melontarkan diri dari pesawat dan selamat.
Saat ini pilot mendapat pemeriksaan lebih lanjut di RSAU dr. Soekirman Lanud Rsn Pekanbaru.
Sementara korban dari warga masih melakukan pendataan.
"Sedang didata Mas," kata Fajar melalui pesan singkat kepada Anadolu Agency pada Senin.
Penyebab kecelakaan dan informasi lainnya masih dalam proses investigasi, ujar dia.