Nicky Aulia Widadio
23 Juli 2019•Update: 24 Juli 2019
Nicky Aulia Widadio
JAKARTA
Kepolisian Republik Indonesia (Polri) mendeteksi aliran dana dari oknum di lima negara terhadap kelompok teror Jamaah Ansharut Daulah (JAD) di Indonesia.
Penghimpun dana tersebut ialah warga negara Indonesia (WNI) bernama Saefulah alias Daniel alias Chaniago yang saat ini diduga berada di Khorosan.
Khorosan merupakan wilayah ekspansi Daesh pada 2015 yang secara historis mencakup sebagian dari Iran, Asia Tengah, Afghanistan, dan Pakistan.
Juru bicara Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo mengatakan Saefulah berada di Khorosan setelah Daesh kalah dalam pertempuran terakhir di Suriah.
Dari situ dia menyalurkan dana yang dikumpulkan dari luar negeri ke kelompok JAD di Indonesia.
Saefulah dulunya merupakan penjaga perpustakaan di Pondok Pesantren Ibnu Mas'ud, Bogor.
“Saefulah ini adalah mastermind yang mengontrol serangan dan distribusi dana serta logistik,” kata Dedi kepada Anadolu Agency, Selasa.
Polisi mencatat Saefulah menerima dana sebesar Rp413 juta sejak Maret 2016 hingga September 2017 dari Trinidad Tobago, Maladewa, Jerman, Venezuela dan Malaysia. Dana dikirimkan melalui Western Union.
Saefullah kemudian menyalurkan dana itu ke sejumlah terduga teroris untuk melaksanakan aksi teror.
Menurut Dedi, pasangan suami-istri Rullie dan Ulfa yang merupakan terduga pelaku bom bunuh diri di gereja Jolo, Sulu, Filipina berangkat dari Makassar menggunakan dana dari Saefulah. Dana tersebut diserahkan melalui perantara Andi Baso dan Yoga.
Andi Baso merupakan buronan atas kasus pengeboman Gereja Oikumene Samarinda pada 2016 lalu. Dia juga yang mengatur perjalanan Rullie dan Ulfah ke Filipina. Sedangkan Yoga merupakan penghubung antara jaringan teror di Indonesia dan Filipina.
Saefullah juga menggunakan dana tersebut untuk memberangkatkan 12 orang anggota JAD ke Khorasan, Afghanistan.
Namun pemberangkatan tersebut gagal dan 12 orang tersebut dideportasi dari Bangkok pada 13 Juni lalu.
Selain itu, Saefullah menyalurkan dana kepada terduga teroris yang ditangkap di Sumatra Barat bernama Novendri yang ditangkap pada 18 Juli.
Dari Novendri, dana tersebut disalurkan kepada pimpinan JAD Bekasi bernama Bondan yang sempat merencanakan teror saat aksi demonstrasi terkait Pilpres 2019 di depan Gedung Bawaslu dan KPU pada 22 Mei.
Bondan batal melakukan aksi tersebut karena lebih dulu ditangkap oleh Densus 88.
Aliran dana tersebut juga sampai ke kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang kini dalam persembunyian di Poso, Sulawesi Tengah melalui Novendri.
Jaringan ini juga berkaitan dengan residivis kasus terorisme Heru Kuncoro alias Uceng, yang merupakan adik ipar dari pelaku bom Bali pertama, Dulmatin. Uceng berkaitan dengan tokoh sentral Daesh asal Indonesia, Abu Walid, yang tewas di Suriah pada Januari 2019 lalu.
Polri kini memburu Saefulah yang telah masuk ke dalam daftar pencarian orang (DPO).
Dedi mengatakan pihaknya telah berkomunikasi dengan kepolisian Afghanistan, Malaysia, Filipina dan sejumlah negara lain untuk menindak jaringan teror ini.
“Kasus ini kan belum selesai, dari Densus 88 masih mendalami juga berkoordinasi dengan kepolisian sejumlah negara,” kata Dedi.