Nicky Aulia Widadio
03 September 2019•Update: 03 September 2019
JAKARTA
Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menyatakan belum bisa merekomendasikan pembukaan akses internet penuh di Papua dan Papua Barat.
Juru bicara Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo mengatakan untuk saat ini pembatasan internet masih diterapkan dan baru akan diakhiri ketika situasi keamanan baik di Papua maupun di dunia maya telah “kondusif”.
Pasalnya, Polri bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menemukan ada total 52 ribu konten yang dianggap sebagai hoaks di dunia maya sejak 14 Agustus hingga 1 September 2019.
Polri dalam hal ini merupakan pihak yang memberikan rekomendasi kepada Kementerian Kominfo terkait kebijakan tersebut berdasarkan situasi keamanan di Papua.
“Dengan pertimbangan seperti itu, untuk sementara dibatasi dulu guna menghindari berita-berita hoaks itu meluas di masyarakat, sehingga justru bisa memicu kerusuhan di masyarakat,” kata Dedi di Jakarta, Senin.
Dedi tidak menjelaskan lebih rinci konten-konten hoaks yang dimaksud. Menurut dia, konten tersebut paling banyak tersebar di media sosial Twitter.
Konten-konten lainnya juga tersebar di Facebook, Instagram hingga Youtube.
“Konten itu diproduksi di dalam dan luar negeri,” lanjut dia.
Menurut Dedi, penyebaran informasi di dunia maya menjadi salah faktor yang memengaruhi situasi di lapangan.
“Acuannya di dunia maya. Di dunia maya masif, jeblok di sana. Ketika ada pembatasan bisa dikendalikan,” tutur dia.
Dia membantah pembatasan internet di Papua bertujuan untuk menutupi situasi dan kondisi di wilayah tersebut.
Pemerintah telah membatasi akses internet di Papua sejak 21 Agustus 2019 setelah unjuk rasa di beberapa wilayah di Papua berujung ricuh.
Kebijakan ini mendulang kritik dari sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM).
Gelombang unjuk rasa terjadi di sejumlah daerah di Papua sebagai respons atas tindakan rasis terhadap mahasiswa Papua di Surabaya, Jawa Timur.
Polisi mencatat ada empat orang tewas akibat kerusuhan di Jayapura dan tiga orang tewas akibat kerusuhan di Deiya.