Nicky Aulia Widadio
JAKARTA
Sebuah survei dari TomTom Traffic Index menunjukkan angka kemacetan Jakarta menurun delapan persen pada 2018.
Pada 2017, tingkat kemacetan Jakarta ialah sebesar 61 persen, sedangkan pada 2018 menjadi 53 persen.
Pencapaian ini sekaligus menurunkan peringkat Jakarta dari kota keempat termacet di dunia menjadi peringkat ketujuh.
TomTom mengukur Indeks Lalu Lintas berdasarkan data GPS anonim yang dikumpulkan melalui sistem navigasi in-dash dan telepon pintar.
“Percaya atau tidak, kemacetan di sejumlah kota menurun dari waktu ke waktu. Indeks Lalu Lintas TomTom melaporkan bahwa tingkat kemacetan menurun di Jakarta,” cuit TomTom Index melalui Twitter.
Menurut TomTom, pengendara di Jakarta menghabiskan 19 menit waktu tambahan per 30 menit perjalanan pada jam sibuk pagi hari.
Sedangkan pada jam sibuk di malam hari, pengendara menghabiskan 26 menit waktu tambahan setiap 30 menit perjalanan.
Waktu tempuh itu lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya, yakni 22 menit waktu tambahan pada pagi hari dan 30 menit waktu tambahan pada malam hari.
Namun, TomTom tidak menjelaskan secara rinci faktor apa saja yang menyebabkan angka kemacetan tersebut menurun. Apalagi, angka kemacetan menurun sebelum MRT Jakarta mulai beroperasi.
Plt Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Sigit Widjatmoko mengatakan kemacetan Jakarta menurun sebagai efek dari sejumlah kebijakan lalu lintas dan perkembangan pembangunan di bidang transportasi.
Pada 2018 lalu, pemerintah sempat memperluas kebijakan ganjil-genap sebagai cara mengatasi kemacetan di sekitar lokasi perhelatan Asian Games 2018.
Selain itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga menata ulang kawasan jalan protokol Sudirman dan MH Thamrin menjadi lebih lebar.
Sigit juga menyinggung mengenai operasional sejumlah underpass dan flyover di sejumlah titik rawan macet, salah satunya di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.
Pengamat Transportasi dari Universitas Katolik Soegijapranata mengatakan penurunan angka kemacetan pada 2018 bisa jadi merupakan dampak dari sejumlah kebijakan yang berjalan dari tahun-tahun sebelumnya.
Penerapan ganjil-genap sepanjang hari di ruas jalan arteri dan pintu masuk menuju Jakarta cukup berpengaruh mengurangi kemacetan di dalam kota.
Sayangnya, lanjut Djoko, kebijakan itu hanya berlaku ketika penyelenggaraan Asian Games padahal berpotensi mengurangi angka kemacetan lebih besar lagi sepanjang diiringi dengan peningkatan pelayanan transportasi publik.
“Salah satu cara untuk mempercepat mengurangi kemacetan bisa meniru kebijakan ganjil genap seharian seperti saat Asian Games,” kata dia.
Layanan transportasi publik pada beberapa tahun belakangan juga dinilai membaik, misalnya dengan penambahan jumlah armada Transjakarta dengan lebih banyak rute ke wilayah Bogor, Depok, Bekasi, dan Tangerang.
Dia menilai Jakarta memiliki peluang yang besar untuk lebih signifikan mengurangi kemacetan sepanjang ada peningkatan kapasitas transportasi publik dan kebijakan lalu lintas yang mendukung sehingga masyarakat mau berpindah moda.
Apalagi, kata Djoko, dengan beroperasinya MRT dan LRT Jakarta.
“Pekerjaan rumahnya adalah membuat semua transportasi publik terintegrasi, tidak hanya di Jakarta tapi juga di Bodetabek,” tutur dia.
Jakarta sebagai ibu kota dan pusat perekonomian di Indonesia telah menghadapi masalah kemacetan menahun.
Menurut data dari Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, ada 8 juta kendaraan bermotor di Jakarta. Angka itu belum termasuk kendaraan yang masuk ke Jakarta dari kota-kota penyangga.
news_share_descriptionsubscription_contact
