ANKARA
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Jumat mengatakan bahwa dia berencana menelepon presiden Rusia dan Ukraina guna membahas pertemuan perundingan damai di tingkat pemimpin negara di Turki.
Berbicara kepada wartawan di Istanbul, Erdogan mengatakan negosiasi antara Rusia dan Ukraina sejauh ini menghasilkan hasil "positif", tetapi tidak seperti yang seharusnya.
Menggarisbawahi proses negosiasi akan lebih baik, dia menekankan, “Kami tidak putus asa.”
Pembicaraan antara delegasi Rusia dan Ukraina di Istanbul pada 29 Maret dilihat sebagai terobosan dalam upaya untuk menghentikan permusuhan yang, menurut angka PBB, telah merenggut nyawa sedikitnya 2.345 warga sipil dan menyebabkan 2.919 lainnya terluka sejak 24 Februari.
Setelah pertemuan di Istanbul, seorang negosiator Ukraina mengatakan Kyiv menginginkan Turki di antara negara-negara yang akan menjadi penjamin dalam kesepakatan apa pun dengan Moskow.
Pada bulan Maret, Turki juga mempertemukan para menteri luar negeri Rusia dan Ukraina di kota Antalya, pertemuan pertama pejabat senior pemerintah dari kedua belah pihak sejak dimulainya perang.
Mengenai operasi anti-teror terbaru Turki di Irak utara, dia mengatakan pasukan keamanan negaranya telah melumpuhkan 45 teroris PKK dalam Operasi Cakar-Kunci, memberikan pukulan besar bagi kelompok teror tersebut.
Dia menambahkan bahwa tiga tentara Turki juga tewas dalam operasi tersebut.
Kelompok teroris PKK sering bersembunyi di Irak utara untuk merencanakan serangan lintas perbatasan di Turkiye.
Pada tahun 2020, Turki meluncurkan operasi Cakar-Harimau dan Cakar-Elang di wilayah perbatasan Irak utara untuk memastikan keselamatan rakyat dan perbatasan Turki.
Dalam lebih dari 35 tahun kampanye terornya melawan Turki, PKK – yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki, AS, dan UE – telah bertanggung jawab atas kematian sedikitnya 40.000 orang, termasuk wanita, anak-anak, dan bayi.