Wakil Menteri Pertahanan Jerman Nils Schmid mengatakan KTT NATO di Ankara pekan ini akan menunjukkan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa negara-negara Eropa telah mulai memikul tanggung jawab yang lebih besar di dalam aliansi melalui peningkatan belanja pertahanan.
Dalam wawancara eksklusif dengan Anadolu, Schmid mengatakan Trump dapat melihat bahwa pembagian beban di NATO bukan sekadar slogan, melainkan telah diwujudkan melalui langkah nyata oleh Jerman dan negara-negara Eropa lainnya.
"KTT Ankara diharapkan mengirimkan sinyal persatuan yang jelas, memperkuat ikatan transatlantik, serta menegaskan bahwa NATO tetap menjadi institusi utama bagi pertahanan kolektif di kedua sisi Atlantik," katanya.
KTT NATO yang digelar pada 7-8 Juli di Ankara akan dihadiri para pemimpin seluruh negara anggota NATO, bersama para menteri luar negeri, menteri pertahanan, dan pejabat militer tertinggi.
Menanggapi kritik Trump bahwa negara-negara Eropa belum memberikan kontribusi yang memadai kepada NATO, Schmid mengatakan seluruh anggota Eropa kini telah memenuhi target belanja pertahanan sebesar 2 persen dari produk domestik bruto (PDB) dan semakin banyak negara yang bergerak menuju target baru sebesar 3,5 persen sebagaimana disepakati dalam KTT NATO di Den Haag pada 2025.
Dia mengatakan Jerman, sebagai ekonomi terbesar kedua di NATO setelah Amerika Serikat, menargetkan pencapaian belanja pertahanan sebesar 3,5 persen PDB pada 2029, jauh lebih cepat dari target 2035.
Eropa bersiap menghadapi pengurangan pasukan AS
Schmid mengatakan rencana pemerintahan Trump untuk mengurangi jumlah pasukan Amerika Serikat di Eropa bukanlah hal yang mengejutkan karena kebijakan serupa juga pernah disampaikan pemerintahan AS sebelumnya seiring bergesernya fokus strategis Washington ke kawasan Indo-Pasifik.
Menurut dia, negara-negara Eropa telah mempersiapkan diri untuk mengisi kekosongan kemampuan militer yang mungkin muncul, namun proses tersebut harus dilakukan secara terkoordinasi.
"Dalam hal kemampuan militer, kami yakin negara-negara Eropa dapat bekerja sama untuk menutup kekurangan yang mungkin muncul dalam beberapa tahun ke depan," ujarnya.
Dia menambahkan NATO memerlukan peta jalan yang jelas apabila Amerika Serikat mulai menarik unsur-unsur militernya dari Eropa.
NATO akan menjadi lebih bercorak Eropa
Schmid mengatakan Jerman bersama sekutu Eropa di NATO dan Uni Eropa tengah memperkuat kemampuan militer, memperdalam kerja sama industri pertahanan, serta mempercepat pengembangan teknologi persenjataan.
"Kami ingin NATO menjadi lebih bercorak Eropa agar tetap menjadi ikatan transatlantik yang kuat," katanya.
Dia menegaskan inisiatif pertahanan Uni Eropa harus saling melengkapi dengan NATO dan tetap membuka ruang kerja sama bagi anggota NATO yang bukan bagian dari Uni Eropa, termasuk Turkiye.
Menurut Schmid, Inggris, Norwegia, dan Turkiye memiliki peran penting dalam memperkuat kemampuan pertahanan Eropa, terutama karena NATO menargetkan kesiapan menghadapi ancaman pada 2029.
Peran strategis Turkiye di NATO
Schmid mengatakan perang Rusia-Ukraina dan konflik di Timur Tengah kembali menunjukkan pentingnya posisi Turkiye bagi keamanan Eropa dan NATO.
"Turkiye memainkan peran yang sangat penting di NATO dan bagi keamanan Eropa. Hal itu telah terbukti dalam beberapa tahun terakhir," katanya.
Dia menilai keamanan Laut Hitam dan stabilitas di sayap selatan NATO tidak dapat dipisahkan dari peran Turkiye dan angkatan bersenjatanya.
Menurut Schmid, KTT NATO di Ankara menjadi kesempatan untuk kembali menegaskan posisi sentral Turkiye di dalam aliansi.
Peluang kerja sama industri pertahanan
Schmid mengatakan Jerman juga tengah menjajaki kerja sama yang lebih erat dengan Turkiye di bidang industri pertahanan sebagai bagian dari upaya memperkuat kemampuan pertahanan Eropa.
Dia menyebut Forum Industri Pertahanan yang digelar di sela-sela KTT NATO akan menjadi kesempatan penting bagi perusahaan pertahanan Jerman, Turkiye, dan negara-negara Eropa lainnya untuk membahas berbagai peluang kerja sama.
Menurut dia, perkembangan industri pertahanan Turkiye dalam beberapa tahun terakhir sangat pesat, terutama di bidang teknologi drone dan rudal presisi jarak jauh.
Schmid mengatakan salah satu bidang yang sedang dipelajari adalah kerja sama dalam pengembangan rudal jarak jauh guna mengatasi kekurangan kemampuan rudal Eropa.
"Kami sedang mempelajari berbagai pilihan untuk rudal jarak jauh. Seperti yang disampaikan Menteri Pertahanan Boris Pistorius, kami juga mempertimbangkan berbagai gagasan yang berasal dari Turkiye," katanya.
Dia menambahkan Jerman kini memiliki pandangan yang lebih terbuka dalam memilih mitra kerja sama pertahanan, termasuk dengan mempertimbangkan produk-produk pertahanan buatan Turkiye seperti rudal Yildirimhan dan Tayfun yang masih dalam tahap pengembangan.