Busra Nur Cakmak dan Burak Dag
19 Juli 2022•Update: 20 Juli 2022
ANKARA
Kebijakan ekspansi NATO harus sejalan dengan kepentingan anggota lamanya, Turki, kata presiden negara itu Recep Tayyip Erdogan pada Senin.
Erdogan menyampaikan hal tersebut beberapa minggu setelah menandatangani protokol dengan dua calon anggota NATO, Swedia dan Finlandia.
Setelah pertemuan Kabinet di ibu kota Ankara, Presiden Erdogan memperingatkan pihaknya tidak tanggung-tanggung untuk menarik dukungan negaranya terhadap aksesi kedua negara Nordik bila mereka tak mematuhi kesepakatan bersama.
“Saya ulangi lagi bahwa kami akan membekukan proses aksesi NATO mereka jika kondisinya tidak sesuai," ujar dia.
Awal bulan ini perwakilan dari 30 negara anggota NATO menandatangani protokol aksesi untuk Finlandia dan Swedia setelah secara resmi mengundang mereka untuk bergabung dengan aliansi militer.
dipicu oleh perang Rusia di Ukraina, kedua negara tersebut mendaftarkan diri untuk bergabung dengan NATO pada bulan Mei, melepas sikap netralitas mereka.
Tetapi Turki menyuarakan keberatan atas tawaran keanggotaan mereka, mengkritik negara-negara tersebut karena menoleransi dan bahkan mendukung kelompok teroris seperti YPG/PKK dan Organisasi Teroris Fetullah (FETO), kelompok di balik kudeta yang gagal di Turki pada 2016.
Menjelang KTT, Ankara dan kedua negara Skandinavia menandatangani memorandum setelah pembicaraan empat arah, bersama kepala NATO.
Perjanjian tersebut memungkinkan negara-negara tersebut untuk menjadi anggota NATO, tetapi mengharuskan mereka untuk mengambil langkah-langkah atas keprihatinan terorisme Turki dan mencabut embargo senjata terhadap Ankara.
Setelah kesepakatan trilateral itu, NATO secara resmi mengundang Swedia dan Finlandia untuk bergabung dengan aliansi militer beranggotakan 30 negara.