Diyar Guldogan
26 Agustus 2022•Update: 31 Agustus 2022
ANKARA
Turki tidak akan mengizinkan siapa pun untuk merusak kedaulatan negara, Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan pada Jumat.
"Kami tidak akan menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang berusaha memecah-belah tanah air kami dan menghancurkan negara kami," kata Erdogan pada upacara peringatan 951 tahun Kemenangan Malazgirt.
Berbicara di sebuah acara peringatan kemenangan itu di provinsi Mus, Erdogan mengatakan Turki tidak akan mentolerir serangan apa pun yang menargetkan kebebasan negara.
"Kami tidak melukai satu orang pun yang tidak bersalah saat bertempur di lapangan, dan kami bertindak dengan kepekaan ini," tambah dia.
Pertempuran Malazgirt
Erdogan mengatakan Malazgirt melambangkan pembukaan gerbang Anatolia bagi rakyat Turki, dan "tidak akan pernah ditutup lagi."
"Kami tidak akan pernah melupakan Malazgirt, kami tidak akan pernah membiarkannya dilupakan, kami akan selalu menjaganya tetap hidup di hati dan pikiran kami," imbuh dia.
Penaklukan Turki atas Anatolia dimulai dengan Pertempuran Malazgirt, juga dikenal sebagai Pertempuran Manzikert, pada 26 Agustus 1071, di mana Kerajaan Seljuk yang dipimpin oleh Sultan Alparslan mengalahkan tentara Bizantium yang jauh lebih besar.
Kemenangan tersebut mempercepat penurunan Kekaisaran Bizantium, dan menyebabkan lebih banyak orang Turki menetap di wilayah tersebut, membuka jalan bagi Kekaisaran Ottoman dan Republik Turki modern.
Berabad-abad kemudian, pendudukan asing mendorong Perang Kemerdekaan Turki pada tahun 1919, di mana pasukan Turki – yang dipimpin oleh Mustafa Kemal Ataturk – akhirnya mengusir penjajah dari Anatolia.
Pada akhir tahun 1922, semua pasukan asing telah meninggalkan wilayah tersebut, yang menjadi bagian dari Republik Turki setahun kemudian.