Muhammad Abdullah Azzam
24 Maret 2021•Update: 24 Maret 2021
Omer Tugrul Cam, Gozde Bayar
BRUSSEL
Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu pada Rabu bertemu dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken di sela-sela pertemuan para menteri luar negeri NATO di Brussels.
Itu adalah pertemuan tatap muka pertama keduanya sejak Blinken menjabat pada akhir Januari lalu, meskipun mereka telah berbicara melalui telepon pada 15 Februari.
Kedua negara adalah anggota lama aliansi NATO.
Pertemuan itu memiliki suasana yang positif, kata sumber diplomatik Turki.
Mereka membahas hubungan bilateral dan masalah internasional dan menyoroti pentingnya hubungan aliansi, kata sumber tersebut, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena pembatasan berbicara kepada media.
Blinken kemudian menulis di Twitter: "Saya berharap dapat melanjutkan kerja sama dengan Sekutu NATO kami Turki tentang upaya kontraterorisme, dan menyuarakan dukungan kami untuk pembicaraan eksplorasi dengan Yunani, dan menekankan pentingnya demokrasi dan hak asasi manusia."
Kelompok terroris, pertahanan rudal
Membahas topik Suriah, Libya dan Mediterania Timur, Cavusoglu menegaskan kembali tuntutan Turki agar AS mengambil tindakan terhadap dua kelompok teroris, YPG/PKK dan Organisasi Teroris Fetullah (FETO), ungkap sumber Turki.
Turki telah lama meminta ekstradisi pemimpin FETO Fetullah Gulen, seorang penduduk AS yang berada di balik upaya kudeta 2016 yang kalah di Turki.
Negara itu juga menuntut agar AS memutuskan hubungan dan dukungan kepada YPG/PKK, sebuah kelompok teroris yang bekerja sama dengan AS di Suriah utara untuk memerangi Daesh/ISIS.
Turki berpendapat bahwa menggunakan satu kelompok teroris untuk melawan organisasi teroris yang lain tidak masuk akal, mengacu pada ancaman YPG/PKK terhadap keamanan Turki.
Sementara itu, Blinken berterima kasih kepada Cavusoglu atas usulan Turki untuk mengadakan pertemuan guna mendukung proses perdamaian Afghanistan di Istanbul.
Kedua menlu itu juga membahas sistem rudal S-400 Rusia.
AS telah mengklaim bahwa sistem tersebut merupakan ancaman bagi sistem senjata NATO.
Sementara Turki mengatakan upayanya untuk membeli sistem pertahanan rudal dari Barat ditolak, dan sistem S-400 dan NATO tidak akan terintegrasi, jadi tidak akan ada ancaman.