Muhammad Abdullah Azzam
11 Maret 2021•Update: 11 Maret 2021
Busranur Begcecanli
ANKARA
Penghormatan landas kontinen Turki di Mediterania Timur oleh Mesir mengungkapkan upaya untuk meredakan ketegangan regional dan memperbaiki hubungan Mesir-Turki, ungkap seorang pakar Timur Tengah Khalid Fouad kepada Anadolu Agency.
Rincian perjanjian antara Mesir dan Yunani untuk membatasi perbatasan mereka di Mediterania Timur pada Agustus lalu mengungkap penghormatan Mesir atas wilayah maritim Turki.
Setelah informasi ini, Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Calisoglu mengatakan pada 3 Maret bahwa Turki dapat menandatangani perjanjian tentang pakta maritim dengan Mesir setelah melakukan negosiasi.
Menurut Calisoglu, eksplorasi seismik Mesir dan kegiatan perizinan di dalam landas kontinennya juga memperhatikan landas kontinen Turki.
Pada 6 Maret, Menteri Pertahanan Turki Halusi Akar juga menegaskan kembali bahwa negaranya sedang mempertimbangkan kesepakatan dengan Mesir sesuai dengan batas yurisdiksi maritim yang dinyatakan negara itu kepada PBB.
Jika perjanjian maritim antara Mesir dan Turki direalisasikan dalam waktu dekat, maka Mesir akan meraih keuntungan besar, sebut Fouad.
"Wilayah maritim yang sangat besar akan ditambahkan ke Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Mesir melalui kesepakatan dengan Turki. Dengan demikian, Mesir dapat melakukan pencarian dan pengeboran baru, dan menarik investasi asing karena wilayah ini mungkin mengandung minyak dan gas dalam jumlah besar," kata dia.
Namun, potensi kesepakatan ini hanya bisa berlaku sebagian, karena akan bersinggungan dengan Perjanjian Demarkasi Perbatasan Maritim antara Yunani dan Mesir yang ditandatangani Agustus lalu, menurut Fouad.
"Menurut saya, kesepakatan yang diharapkan antara Mesir dan Turki hanya akan berlaku untuk wilayah besar yang belum dibatasi," tutur dia.
Setelah kehilangan 11.500 kilometer persegi landas kontinennya dalam perjanjian yang ditandatangani dengan Siprus Yunani pada 2003, Mesir juga menyerahkan sekitar 15.000 kilometer persegi dalam perjanjian dengan Yunani.
Mesir bisa mendapatkan 21.500 kilometer persegi perbatasan laut utara jika negara itu mencapai kesepakatan dengan Turki.
Mesir memegang posisi yang menguntungkan di Mediterania Timur dengan kemampuannya untuk menawarkan banyak opsi ekspor melalui dua terminal LNG-nya, Idku dan Damietta, kata Fouad.
Sasaran strategis Mesir di Mediterania Timur, menurut Fouad adalah membuatnya menjadi pusat regional untuk mengekspor gas ke pasar global, terutama ke Eropa.
Namun, tujuan strategis ini melibatkan pengamanan hubungannya dengan Israel, seperti yang terlihat dengan kesepakatan terakhir untuk pipa yang menghubungkan ladang gas Leviathan Israel ke kilang LNG Mesir.
Mesir menawarkan rute alternatif untuk transit minyak Emirat ke pasar Eropa dalam perjanjian yang dibuat antara Israel dan Uni Emirat Arab (UEA).
Karena pipa ini mengancam Terusan Suez, yang secara geopolitik penting bagi Mesir, Kairo ingin mendukung transmisi gas Israel melalui pabrik Mesir daripada melalui pipa Eilat-Ashkelon.
Mesir juga telah terlibat dalam diskusi dengan Yunani dan Siprus Yunani untuk mengubah rute pipa Mediterania Timur guna mengatasi kesulitan teknis, membuatnya lebih layak secara ekonomi, dan mengatasi masalah keamanan Israel.
Namun menurut Fouad, Israel tidak akan mengizinkan Mesir untuk mengontrol ekspor gasnya melalui jalur pipa baru yang diusulkan oleh Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi kepada Siprus Yunani.
Uni Eropa juga menjadi penghalang lain untuk proyek ini karena mereka tidak menyambut baik Mesir atau Turki dalam proyek EastMed.
Sebaliknya, blok itu akan mendukung kerja sama antara Siprus Yunani dan Yunani sebagai anggota mereka dan juga mendukung Israel.