Megiza Soeharto Asmail
17 Oktober 2018•Update: 17 Oktober 2018
Megiza Asmail
JAKARTA
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh periset yang tergabung dalam kelompok gerakan anti-hoaks mencatat ada 230 informasi hoaks yang tersebar dalam kurun wakru Juli-September 2018.
Kelompok yang menamakan diri sebagai Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) tersebut mendapati bahwa isu politik menjadi konten hoaks terbanyak.
“Dari total 230 hoaks yang terklarifikasi tersebut, konten politik masih mendominasi dengan persentase 58,7 persen,” ujar Ketua Presidium Mafindo, Septiaji Eko Nugroho dalam diskusi bertajuk Negara Darurat Hoaks di Jakarta, Selasa.
Di belakang isu politik, berturut-turut isu yang kerap diincar oleh pelaku hoaks adalah isu agama dan penipuan dengan persentase sama yakni sebanyak 7,39 persen, kemudian isu lalu lintas 6,96 persen, serta isu kesehatan sebanyak 5,2 persen.
“Dalam perkembangannya, hoaks bukan saja sekadar tulisan tapi juga mencakup data, foto dan gambar. Konten juga beragam mulai dari politik, agama, kesehatan, bisnis hingga bencana alam,” tutur Septiaji.
Lebih lanjut, Mafindo juga mencatat hoaks tidak hanya beredar melalui media sosial yang sifatnya social networking system seperti Facebook, Twitter, Instagram dan YouTube, namun serangan hoaks juga disebar lewat jaringan tertutup seperti WhatsApp, Line dan BBM.
Periset Mafindo menemukan bahwa sarana yang paling dibanyak untuk menyusun hoaks adalah dalam bentuk narasi dan gambar atau foto sebanyak 50,43 persen, penggunaan narasi murni 26,96 persen, video 14,78 persen, dan gambar atau foto 4,35 persen.
“Kalau untuk sarana persebaran hoaks yang paling banyak masih ada di Facebook. Kami mendata sebaran itu sampai 47,83 persen, Twitter sebanyak 12,71 persen, WhatsApp 11,74 persen sedangkan melalui YouTube sebanyak 7,83 persen,” ungkap Septiaji.
Tingginya persebaran hoaks di Indonesia saat ini, menurut Mafindo, adalah fenomena global. Salah satu relawan Mafindo, Harry Sufehmi, menyebut beberapa kota di Amerika Serikat bahkan mengalami masalah hoaks yang sama.
“Amerika yang masyarakatnya memiliki tingkat edukasi lebih tinggi dari kita juga mengalami badai informasi hoaks. Indonesia sebenarnya lebih beruntung karena upaya untuk melawan informasi hoaks tidak hanya datang dari pemerintah, tapi juga media massa dan masyarakat sipil,” kata Harry.