08 Agustus 2017•Update: 09 Agustus 2017
Megiza Asmail
MAKASSAR
Hampir empat tahun sudah Abdurrahman, 41, bolak-balik ke Puskesmas dan Rumah Sakit di Makassar mengeluhkan sakit yang dideritanya. Awalnya dia hanya merasa nyeri di beberapa persendian tubuh. Namun lama kelamaan, demam kerap mengikuti ketika nyeri itu menyerang.
Bersamaan dengan itu, benjolan mulai bermunculan di sebagian tubuhnya. Beberapa benjolan berdiameter sekitar 1 sentimeter terlihat dengan jelas di bagian dalam luar kedua lengannya.
Bertahun-tahun menahan sakit, Abdurrahman mengaku sering dihantui pikiran menyerah akan hidup. Pasalnya, pria asal Myanmar yang tinggal di salah satu wisma pengungsi di kawasan Rappocini, Makassar, ini merasa tidak pernah mendapatkan pengobatan yang layak dari instansi kesehatan di sana.
“Sekujur tubuh saya suka nyeri dan demam. Waktu saya berobat ke Puskesmas pertama kali, sudah ada dua benjolan di badan saya,” kata Abdurrahman saat berbincang dengan Anadolu Agency pekan lalu.
Kala itu, dia ingat, dirujuk oleh Puskesmas yang didatanginya untuk melanjutkan pemeriksaan ke Rumah Sakit Bhayangkara. Di sana, dokter yang memeriksa menuliskan beberapa tindakan yang disarankan.
Status Abdurrahman sebagai pengungsi dari Rohingya memang membuat dokter di rumah sakit tidak dapat langsung memberikan perawatan. Ada sebuah prosedur yang harus dilalui sebelum pengungsi dirawat atau ditindaklanjuti masalah kesehatannya oleh pihak rumah sakit.
Abdurrahman mengatakan, dokter atau rumah sakit yang menangani keluhan pengungsi Rohingya, hanya dapat melakukan tindakan jika surat rekomendasi dokter sudah disetujui oleh lembaga dunia yang menangani mereka yakni International Organization of Migration (IOM).
Artinya, pengobatan lebih lanjut tidak akan dilakukan pihak rumah sakit jika IOM tak memberikan tanggapan atas rekomendasi tersebut. Hingga kini, Abdurrahman tercatat sudah ‘di-ping-pong’ ke dua rumah sakit yaitu Rumah Sakit Bhayangkara dan Rumah Sakit Awal Bros.
“Terakhir, IOM suruh saya ke RS Awal Bros. Tapi di sana saya cuma dicek saja. Di rumah sakit itu saya sampai ganti dokter lima kali. Mereka bikin surat dan bilang tidak tahu apakah IOM mau membayar [penanganan yang diperlukan] atau tidak,” ujarnya.
Terakhir, dalam Lembar Jawaban Konsultasi dan Prosedur Medis yang dikeluarkan pada 26 Mei 2017, dokter mencantumkan perkiraan biaya prosedur lanjutan sekitar Rp 7-8 juta. Sedangkan untuk penyakit yang dideritanya, dokter mendiagnosisnya sebagai multiple-tumor dengan Neurofibroma dan Limfoma.
Dijelaskan dalam situs kesehatan medicalnewstoday, Neurofibroma adalah kelainan genetik pada sistem saraf manusia yang tidak dapat disembuhkan. Kondisi ini memengaruhi perkembangan jaringan sel saraf. Tumor yang dikenal sebagai Neurofibroma biasanya berkembang pada saraf dan dapat menimbulkan masalah lain.
Di tempat berbeda, situs kesehatan WebMD menyebut Limfoma sebagai kanker yang dimulai saat sel-sel sistem kekebalan tubuh bernama Limfosit terinfeksi. Sel-sel ini biasanya berada di kelenjar getah bening, limpa, timus, sumsum tulang dan bagian tubuh lainnya.
Dengan kondisi seperti itu, Abdurrahman mengungkapkan merasa telah didiskriminasi oleh pihak IOM. Alasannya, pengungsi Rohingya selalu mendapat perbedaan perawatan medis jika dibanding dengan pengungsi dari negara lain yang menetap di Makassar.
“Kalau pengungsi yang lain sakit langsung ditangani di RS Awal Bros. Kalau saya, dokter di sana malah bilang ‘kalau itu uang kamu sendiri baru kami obati’,” ujarnya.
Tidak hanya mengeluhkan penanganan dokter mengenai sakit yang dirasakannya. Zainab, 27, istri Abdurrahman juga sudah beberapa kali ke dokter namun tak ditangani dengan baik. Dia bercerita, istrinya sering menderita sakit telinga sampai-sampai menyebabkan sakit kepala.
“Dia sakit telinga dari tahun 2013. Hari-hari kami tidak bisa beli daging untuk makan, kami hanya bisa beli ikan. Kalau makan ikan, telinganya selalu keluar cairan. Tapi setiap kami ke sana, dia hanya dikasih obat tidur,” tuturnya.
Abdurrahman kini hanya bisa menunggu aksi nyata dari IOM, sebagai lembaga dunia yang mempunyai misi membantu kehidupan para imigran. Besar harapan di hatinya agar IOM atau pihak rumah sakit mau menolongnya sembuh dari sakit.
Tiga anak Abdurrahman dan Zainab yaitu Azizurrhrman (7), Arman (5) dan Colaiman (3) menjadi alasan dia menepis rasa putus asa yang singgah setiap saat. Yang selalu dia ingat, ketiga anaknya masih memiliki masa depan yang panjang.
“Anak-anak saya masih butuh saya. Bagaimana masa depan anak saya kalau saya dibiarkan sakit seperti ini?” tanya Abdurrahman.