Megiza Soeharto Asmail
03 Desember 2017•Update: 04 Desember 2017
Megiza Asmail
SABANG, Aceh
Setelah delapan rangkaian Sail Indonesia digelar sebelumnya di titik-titik wisata laut Indonesia, Sail Sabang yang akan ditutup pada 5 Desember dinilai berhasil menjadi event sail terbesar di Nusantara.
Saat menyampaikan laporannya kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menyebut Sail Sabang digelar dengan target yang berbeda dibanding gelaran sail sebelumnya.
“Pada Sail Sabang kita lebih fokus pada pengembangan potensi wisata dibandingkan sail-sail sebelumnya yang lebih mengarah pada percepatan infrastruktur daerah. Karena itu sekarang Menteri Pariwisata secara terintegrasi membuat Sabang ini menjadi hub internasional untuk wisata bahari,” kata Luhut di Sabang, Aceh, Sabtu.
Dia menjelaskan, pencapaian sektor wisata saat ini sudah melampaui target pemerintah meski terjadi situasi yang tidak menguntungkan dengan adanya erupsi Gunung Agung. Namun Sail Sabang, dianggap Luhut, berhasil memberikan kontribusi yang sangat besar.
“Sail Sabang 2017 yang dinahkodai Menteri Pariwisata dan Gubernur di tingkat daerah telah membuat perhelatan Sail Sabang ini menjadi Sail terbesar dibandingkan event sail sebelumnya di Indonesia,” tegas dia.
Luhut memaparkan, keberhasilan Sail Sabang tidak hanya diukur dari jumlah pengunjung yang mencapai angka 20 ribu. Tetapi, angka partisipan yang ambil bagian dalam agenda kelautan kali ini juga menjadi bukti kebesaran Sail Sabang.
“Ada juga 13 KRI yang hadir dibawa oleh Kepala Staf Angkatan Laut. Satu kapal research Baruna Jaya milik LIPI, 2 teal shift KRI Bima Suci dan Dewa Ruci. Cruise ship Costa Victoria dengan 2200 penumpang, 18 yacht dari tujuh negara. Jumlah pengunjung sebanyak 20ribu, dengan 3000 wisman di antaranya,” beber Luhut.
Sail Sabang 2017, kata Luhut, juga menghasilkan tiga karya nyata yang bermanfaat bagi Sabang pasca kegiatan yaitu dengan dicanangkannya Diamond-Triangle Regatta Saphula (Sabang-Phuket-Langkawi) pada tahun 2018, International Free-Dive Competition 2018, dan Pengembangan Perikanan Budidaya Laut.
Lebih jauh, Luhut menjabarkan, Sail Sabang menjadi lebih menarik dibanding sail sebelumnya karena keikutsertaan dua kapal layar tinggi yakni Kapal latih TNI AL Bima Suci dan KRI Dewa Ruci.
Kapal Dewa Ruci diketahui membawa misi ekspedisi nasional Nusantara Jaya di bawah koordinasi Kemenko Kemaritiman yang membawa 68 pelajar SMA dari 34 provinsi.
Sementara KRI Bima Suci merupakan sebuah kapal baru yang didatangkan dari Spanyol, yang menggantikan KRI Dewa Ruci sebagai kapal latih bagi taruna akademi angkatan laut yang membawa 119 kadet.
Kedua kapal layar itu dilepaskan secara resmi di Jakarta pada 20 November lalu bersama rumah sakit terapung KRI DR Soeharso.
Ada juga KRI Banda Aceh yang membawa tim ekspedisi pelayaran lingkar nusantara ke-7 yang diikuti 400 pramuka wisata bahari. di bawah koordinasi TNI AL, dan juga ekspedisi bela negara yang membawa 300 peserta di bawah koordinasi Kementerian Pertahanan.
“Sebenarnya, dalam rencana juga ada 100 yacht. Tetapi karena cuaca saat ini, hanya ada 18 yacht yang berhasil datang. Karena itu kami mempertimbangkan untuk tidak dibuat lagi di bulan Desember supaya tidak terganggu dengan cuaca seperti sekarang ini,” kata Luhut.
Sail Sabang menjadi seri ke-9 sejak diadakannya program Sail Indonesia pertama kali yaitu Sail Bunaken di Manado pada 2009 silam. Di belakangnya, Sail Banda digelar pada 2010, Sail Wakatobi-Belitong pada 2011, Sail Morotai pada 2012, Sail Komodo di 2013, Sail Raja Ampat pada 2014, Sail Teluk Tomini di 2015 dan Sail Selat Karimata pada tahun lalu.