Muhammad Nazarudin Latief
23 Oktober 2018•Update: 24 Oktober 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Indonesia berpeluang meningkatkan ekspor ke negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) hingga 10 persen dari total ekspor nasional senilai USD23 miliar, ujar Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Selasa.
“Bisa naik dua kali lipat dari tahun ini yang baru 5 persen,” ujar Rosan Roeslani, usai pembukaan sidang tahunan The Islamic Chamber of Commerce, Industry and Agriculture (ICCIA) di Jakarta.
Menurut Rosan, sidang tahunan ini akan membawa hasil positif bagi Indonesia, mulai dari peningkatan perdagangan ke negara-negara OKI hingga investasi.
Hubungan ekonomi antara negara-negara anggota ICCIA menunjukkan tren positif, kata Rosan. Namun hal tersebut belum mencerminkan potensi riil, karena besarnya peluang yang belum dioptimal oleh negara-negara anggota ICCIA.
Sidang Tahunan ICCIA merupakan acara pertemuan business to business (B2B) antara pengusaha-pengusaha dari negara-negara OKI dengan tema "Inclusion in Sharia Economy: A New Paradigm".
Sidang ini akan menggelar beragam diskusi dalam sektor infrastruktur, perdagangan halal, dan ekonomi digital.
Negara-negara yang hadir di antaranya adalah Djibouti, Mesir, Indonesia, Iran, Yordania, Kuwait, Malaysia, Mali, Nigeria, Oman, Pakistan, Palestine, Qatar, Saudi Arabia, Sudan, Tunisia, Turkey, Uganda dan Uni Emirat Arab.
Menurut Rosan, Indonesia saat ini membuka peluang besar investasi pada bidang infrastruktur sebagai salah satu prioritas pembangunan. Potensi investasi ini akan dibahas oleh negara-negara anggota ICCIA yang memiliki kesempatan untuk berinvestasi dan berbisnis di Indonesia.
Sidang ini berpotensi menjadi terobosan mengembangkan perekonomian syariah di Indonesia dengan mempererat hubungan politik dan ekonomi dengan negara-negara anggota OKI yang lain.
Sidang ini berpotensi untuk menjadi paradigma baru menghadapi fenomena dan penyelesaian gejolak perekonomian global, kata Rosan.
“Dengan inklusi khususnya di sektor keuangan dapat menjadi instrumen yang efektif dalam mengurangi kemiskinan dan mengatasi ketimpangan di Indonesia,” paparnya.
Wakil Presiden ICCIA Ahmad Al Wakeel mengatakan pertemuan ini bisa menjadi awal kerja sama yang berkelanjutan pada proyek-proyek infrastruktur di berbagai negara.
Proyek-proyek ini akan menciptakan peluang kerja bagi masyarakat sehingga mengurangi tingkat pengangguran dan meningkatkan perdagangan antara negara-negara Islam.
“Ini kesempatan untuk meningkatkan kerja sama dan investasi yang layak dan membawa manfaat nyata bagi masyarakat Indonesia, serta keuntungan nyata bagi para investor dari berbagai negara Islam," ujar dia.
Pada sidang tahunan ICCIA juga akan dilakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara KADIN dan ICCIA untuk menggalang sumber daya dalam mendukung percepatan pembangunan infrastruktur di Indonesia.
Kerja sama ini akan menjadi instrumen efektif dalam meningkatkan kerja sama di antara negara-negara anggota ICCIA dalam membantu pembangunan infrastruktur di Indonesia.
"Kerja sama ini menunjukkan bahwa Kadin Indonesia siap melakukan langkah-langkah nyata yang diperlukan, agar apa yang sudah menjadi tujuan bersama, lebih mudah dicapai,' tandas dia.
Saat membuka sidang tahunan ini, Wakil Presiden Jusuf Kalla menekankan pentingnya kerja sama antara negara anggota anggota ICCIA untuk menghadapi kondisi ketidakpastian ekonomi global dan perubahan iklim.
“Dunia sedang mengalami masalah ekonomi, perdagangan, dan juga climate change yang tentunya mempunya efek berganda kepada banyak negara. Negara-negara Islam juga banyak mengalami masalah internal dan eksternal. Ini semua menyebabkan perlunya para pengusaha dan pedagang untuk tetap bersatu demi kemajuan bangsa dan dunia Islam," ujar Kalla.